Arsip untuk Juli, 2008

Candi di Indonesia?

27 Juli 2008

Belajar geologi sejarah dengan berjalan-jalan sepertinya lebih menyenangkan dari pada cuma lihat-lihat teori dari dosen-dosen.. Berikut ceritanya.. Beberapa bulan yang lalu, saya dengan tidak sengaja, jalan-jalan ke beberapa candi di Jawa Tengah.. Sudah lama sekali rasanya tidak kesana.. Pas musim liburan juga, dimana penuh sesak orang.. Terakhir jalan-jalan, mungkin masih SMA, belum mengerti apa-apa..

Setelah melihat-lihat, muncul berbagai ide yang terbesit dalam pikiran saya.. Mengapa candi-candi tersebut dapat berdiri disana? Bagaimana batuannya? Bagaiman kekuatan batuannya? Bagaimana sejarah peradabannya?

Saya pun mengingat perkataan dosen saya sewaktu mengambil kuliah, ada seorang Prof yang mengajar saya di geologi bertanya ke kami (mahasiswa), “mengapa candi-candi di Indonesia, terdiri dari batuan berwarna hitam, yang notabene merupakan produk vulkanik?”

Kami hanya terdiam, merenung, “oh iya yah.. kenapa?” mungkin muncul pikiran, bahwa Indonesia merupakan jalur pegunungan “ring of fire”, dimana gunung-gunung api aktif dan pasif berada di sepanjang pulau.. Kemudian dosen pun berkata, bahwa memang di Indonesia, batuannya lebih mengarah ke vulkanik, tetapi intinya, jauh sebelum adanya ilmu geologi, masyarakat di Indonesia sudah dapat memilih dengan baik, bahan-bahan batuan apa yangdapat dipakai, kuat, tidak mudah runtuh, dsbnya..

Kalau kita bandingkan dengan peninggalan sejarah di eropa, timur tengah, maka disana batuan berwarna kekuningan, alias sedimen, lebih banyak dipakai.. mungkin pertimbangan bahwa disana batuan tersebut cukup keras, dan tidak terlalu banyak sumber vulkanik yang dapat dipakai..

Sedih memang melihat candi-candi yang ada tersebut.. Saya pikir kurang sekali pemeliharaan.. Padahal, situs-situs sejarah tersebut sangat indah untuk di kunjungi.. Mungkin seorang geolog bisa membantu memberikan penjelasan yang lebih detail, atau teman-teman geolog lain punya ide???

Gambar diatas merupakan candi Sukuh.. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.

Gambar diatas merupakan salah satu relief pada candi Sukuh.. Terdapat tulisan sangsekerta di bagian kiri atas, yang merupakan cerita dari relief tersebut.. Batuannya agak berwarna kemerahan, karena kandungan batuannya cenderung ke arah andesitik..

pada bangunan candi, tanahnya seperti gambar diatas.. Sepertinya pelapukan yang cukup kuat.. Ditambah kekeringan di daerah sekitarnya.. apakah bisa berdampak pada kekuatan bangunan candi tersebut?

hmm.. mungkin masih banyak yang bisa di pelajari.. masih banyak pembahasan yg kurang.. kalau ada yg mau tambahin, silahkan, monggo saja..

Penurunan Harga Minyak Dunia

26 Juli 2008

Menarik diikuti perkembangan harga minyak dunia saat ini.. Setalah bertubi-tubi naik hampir ratusan persen, seminggu ini, harga minyak dunia turun cukup drastis..

Saya kutip dari salah satu media, “Pada perdagangan Jumat (25/7/2008) di New York, minyak jenis light kembali turun 1,55 dolar ke level US$ 123,94 per barel. Harga sempat menyentuh US$ 122,50 per barel, yang merupakan terendah sejak 5 Juni. Sementara minyak jenis Brent turun hingga 1,47 dolar ke level US$ 124,97 per barel”.

Hal ini sangat mengejutkan, dimana tadinya ekonomi negara-negara dunia anjlok karena tingginya harga minyak dunia, tetapi saat ini ekonomi mulai stabil dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun.. Kecendrungan yang ada adalah bahwa musim panas membutuhkan energi lebih, sehingga biasanya harga minayk dunia akan naik..

Penurunan ini tidak lain karena semakin sadarnya orang akan mahalnya harga minyak bumi.. Penurunan konsumsi akan minyak dunia merupakan pemicu turunnya harga minyak bumi.. Amerika Serikat sebagai negara terboros konsumsi minyak bumi, telah dapat menurunkan konsumsinya hampir 300.000 barel per hari. Berbagai negara di eropa juga mulai membatasi pemakaian BBM untuk negaranya.. Mahalnya harga minyak bumi, menuntut manusia untuk berpikir jernih, berpikir lebih maju, dan berpikir dewasa akan pentingnya minyak bumi di masa mendatang.. Mereka mencoba mengurangi konsumsi agar tidak tertekan harga minyak bumi yang mahal, dan segera beralih ke energi baru yang lebih ekonomis..

Kenaikkan produksi minyak bumi negara-negara OPEC juga memberikan titik cerah, dimana mereka dapat memenuhi tuntutan akan tingginya permintaan akan minyak bumi.. Beberapa lapangan produksi minyak bumi terus berkembang, dan terdapatnya sumber-sumber baru ekonomis, sehingga turut menurunkan harga minyak bumi.. Hal-hal tersebut diatas yang dapat memberikan perbaikan untuk harga minyak dunia.. Dengan harga minyak dunia yang turun dan relatif stabil, maka perekonomian di negara-negara akan membaik..

Bagaimana dengan Indonesia???

Saya kira tidak demikian.. Mengapa? karena kita dapat lihat, bahwa kota-kota besar semakin semeraut. Kemacetan, pemborosan energi, polusi, pemadaman listrik, ekonomi yang tidak menentu, membuat negara kita semakin boros akan energi.. Kita lihat saja dijalan, semakin banyak kendaraan bermotor, kendaraan pribadi terutama.. Kemacetan berjam-jam, berkilo-kilo meter.. Polusi udara yang semakin menjadi.. Serta krisis energi listrik.. Merupakan contoh-contoh pemborosan energi..

Sekiranya pemerintah dapat lebih berperan aktif dalam memerangi pemborosan energi ini.. Seperti menggalakkan transportasi umum.. Menaikkan harga BBM ke harga jual pasar, sehingga orang sadar akan pentingnya BBM.. Memberikan pajak kendaraan bermotor berdasarkan gas buangnya.. Memberikan harga lebih tinggi ke pemakai listrik, dan masih banyak lagi..

diatas merupakan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan Jakarta, di sebalah kanan, merupakan rambu-rambu bengkel uji emisi. Sekiranya uji emisi lebih dapat digalakkan untuk memberikan pajak yang sesuai dengan gas emisi masing-masing kendaraan. Dengan membaiknya emisi kendaraan, sehingga kendaraan yang tidak lulus uji emisi, tidak dapat memperpanjang pajak kendaraannya. Membaiknya emisi kendaraan, membuat kendaraan boros BBM akan berkurang. Nantinya, kita dapat mencontoh negara-negara eropa, dimana tekanan gas emisi kendaraan akan mengurangi konmsumsi BBM negaranya..

Biofuel vs Bahan Pangan

17 Juli 2008

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca di surat kabar, bahwa biodiesel mendapat kecaman dari beberapa pihak di eropa, karena diperkirakan membuat hutan dunia gundul (berkurang). Aktifitas ini dikarena ramainya kegiatan pengambilan sawit dan produk agriculture lain untuk kepentingan pembuatan energi alternatif biofuel. Hal ini sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang bergerak di bidang energi, karena dapat menghambat perkembangan dunia energi terutama untuk energi alternatif.

Pemanfaatan biodiesel juga memberikan dampak, bahwa harga minyak sayur (agriculture) terjadi lonjakkan karena kebutuhan yang meningkat. Sesuai dengan prinsip dalam ekonomi, dimana permintaan naik, tetapi penawaran tetap, sehingga harga minyak sayur (agriculture) terikut dampak kenaikan harga.

source: Total Professor Associate

Saat ini, harga minyak sayur (agriculture) mencapai Rp 10000-15000 per liter (info yang saya dapat dari surat kabar) berbanding dengan harga solar subsidi Rp 5500 per liter. Beberapa waktu yang lalu informasi ini saya dapatkan dari surat kabar, bahwa Pertamina sudah tidak dapat mengembangkan dan memakai kadar minyak sayur (agriculture) karena harga per liter minyak sayur (agriculture) tidak dapat menutupi harga produksi dan harga jual solar subsidi. Saat pertama kali biodiesel diperkenalkan di Indonesia, kadar bio mencapai 5%, sisanya 95% adalah solar murni. Kemudian Pertamina menurunkan kadar bio dalam biodiesel menjadi 2.5% karena harga minyak sayur (agriculture) naik. Beberapa saat yang lalu, Pertamina kembali menurunkan kadar bio menjadi hanya 1% dalam produk biodiesel. Hal ini dikarenakan tidak tertutupnya biaya produksi biodiesel dan Pertamina tidak dapat membayar harga minyak sayur (agriculture) yang mencapai Rp 10000-15000 per liternya. Semua ini karena masih disubsidinya harga solar di Indonesia, sehingga tidak bisa berkompetisi dengan energi alternatif.

source: Total Professor Associate

Mahalnya pembuatan biodiesel mencapai 120 dollar AS / barel (info gambar diatas) membuat Indonesia tidak dapat berkompetisi dalam harga jual kembali. Dilain pihak, biodiesel akan terus berkembang, terlihat oleh adanya kenaikkan pemakaian dari tahun 2000 hingga 2005 sebesar 295% (info gambar diatas). Meskipun terjadi konflik dalam pemakaian karena dipakai sebagai BBM dan makanan sehingga ikut menaikkan harga minyak sayur (agriculture) karena demand yang semakin meningkat, akan tetapi biodiesel akan tetap menjadi salah satu sumber energi alternatif. Di Indonesia, agar dapat bersaing dengan energi lain, maka pemerintah perlu menaikkan harga BBM, agar biodiesel dapat tertutupi biaya produksinya sehingga % bio dalam biodiesel dapat dinaikkan.

Fwd: Jika harga minyak naik terus (joke)

17 Juli 2008

Beberapa hari yang lalu, saya dapat forward email dari beberapa mailing list, saya lihat-lihat, lucu juga nih.. bisa jadi inspirasi untuk mencari energi alternatif… atau hanya sekedar membantu kita untuk mengingat “saatnya menghemat energi”… bahkan sekedar untuk joke di pagi hari ini… hehehe…

berikut ini saya forward kembali ke blog saya, maaf bila sudah pernah di posting, saya hanya mencoba menyegarkan kembali pikiran…

Setelah dipaksa ngirit listrik, BBM terus dinaikin, lama-lama kita jadi begini nih:


Jika harga minyak terus naik


Maka, Garuda adalah dalam arti sebenarnya

bagus juga nih, agar mengingatkan para pemakai jasa penerbangan, harga BBM nya melambung tinggi, sudah sewajarnya harga tiket naik… jangan mau naik maskapai murah terus donk… bantu juga sukseskan penerbangan kita dari berbagai banned…
[]

Yang suka gaya pake Hummer,

bener-bener pake tenaga kuda

kalau ini saya setuju banget… mobil-mobil boros, ber-cc besar, harus sudah dihentikan… saya pikir langkah General Motor menghentikan produksi Hummer adalah tepat disaat sekarang ini… Tapi bagi yang “mampu”, yah gak usah takut, silahkan saja dipakai mobil-mobil tersebut…
[]

mobil supply energy

kalau ini lebih tepatnya untuk menggalakkan energi alternatif… sepertinya kendaraan memakai batere, sudah selayaknya berkembang… harga BBM yang melambung tinggi, membuat kita berfikir untuk menciptakan energi alternatif… setidaknya mobil hybrid yang telah masuk, atau akan masuk ke Indonesia, dibantu agar harga jualnya kompetitif… sehingga masyarakat terpacu akan mobil-mobil masa depan tersebut…
[]

Tenaga angin, boleh juga


[]

Lupakan F1 dan balapan lain…

[]
Saking streessssss nya

harga BBM naik…
[]

MARI BAPAK-IBU PEJABAT / PENGUSAHA TERKAIT ;

KITA BERUSAHA SEMAMPU KITA SUPAYA

TIDAK SAMPAI BEGINI……

mudah-mudahan, gambar-gambar tersebut, bukan hanya untuk pengusaha dan pejabat saja seperti yang saya dapat dari forward temen-teman mailing list… tetapi untuk kita semua… perlu diingat bahwa energi akan habis bila kita tidak berupaya untuk menghemat dan memperbaharuinya…

semoga seluruh lapisan masyarakat, warga, tua-muda, pejabat, pengusaha, mahasiswa, sadar akan pentingnya energi… ayo kita berhemat!!! jangan biarkan listrik padam dan BBM habis…

Produksi vs Konsumsi Indonesia dengan Negara lain

10 Juli 2008

Cape juga tiap kali kita baca di internet, media cetak, buku, dll mengenai harga minyak bumi yang terus-menerus semakin melejit.. Saya coba ambil dari sudut pandang lain, berupa konsumsi negara Indonesia, di bandingkan dengan negara lain.. apakah Indonesia termasuk boros? atau termasuk hemat? atau cukup baik-baik saja, dan memang krisis energi sudah waktunya???

Dahulu Indonesia merupakan bagian dari negara OPEC (gabungan negara penghasil minyak bumi di dunia) dimana Indonesia berperan sebagai pengekspor minyak bumi ke negara-negara lain. Produksi minyak bumi di Indonesia sempat mencapai 1.5 juta barel pada pertengahan tahun 90an. Pada saat itu konsumsi minyak bumi di Indonesia hanyalah 800 ribu barel. Terlihat bahwa Indonesia masih menyimpan banyak sisa minyak bumi, sehingga masih terdapat ekspor minyak bumi Indonesia yang sangat menguntungkan.

Gambar 1. Kurva produksi dan konsumsi minyak bumi di Indonesia telah bertemu.

Seiring tumbuhnya konsumsi minyak bumi di Indonesia, dengan rata-rata kenaikan konsumsi 3.2 % / tahun (perhitungan saya) dari tahun 1975 sampai 2002, maka konsumsi minyak bumi ini sudah tidak dapat dipenuhi oleh produksi minyak bumi Indonesia. Pada tahun 2004, Indonesia telah menjadi negara yang mengimpor minyak bumi untuk kebutuhan dalam negeri. Pada kurva tersebut terlihat bahwa garis produksi dan konsumsi telah bertemu, sehingga jumlah produksi yang terus menurun, tidak dapat lagi memenuhi permintaan konsumsi yang terus naik (gambar 1). Produksi minyak bumi akan terus menurun, karena fakta bahwa minyak bumi menjadi suatu yang langka setelah adanya peak oil, memang benar terjadi. Kita lihat pada gambar 2, dimana kurva produksi minyak bumi di Indonesia terus menurun. Dari tahun 1994-1998 dengan produksi masih diatas 1.5 juta barel, menurun tajam pada tahun berikutnya, sehingga pada tahun 2005 sudah menjadi 1 juta barel saja. Pada tahun 2007, produksi minyak bumi di Indonesia hanya 950 ribu barel.

Gambar 2. Kurva produksi minyak bumi di Indonesia yang terus menurun dari tahun ke tahun.

Pada tabel 1, kita dapat melihat produksi minyak bumi beberapa Negara, dimana Indonesia diperkirakan peak pada tahun 1996, pada saat itu produksi minyak bumi di Indonesia sampai 1.55 juta barel. Setelah tahun tersebut, produksi minyak bumi di Indonesia tidak pernah mencapai angka tersebut lagi, terlihat bahwa pada 2006 produksi minyak bumi di Indonesia hanya mencapai 1.02 juta barel. Diperhitungkan bahwa angka penurunan produksi minyak bumi di Indonesia semenjak peak sebesar 0.53. Produksi minyak bumi kita cukup besar dibandingkan negara lain kecuali Amerika, Inggris, Norwegia dan Meksiko. Peak oil kita juga cukup cepat dibandingkan negara-negara tersebut, begitu juga dengan angka penurunan produksi. Kemungkinan hal ini dikarenakan tidak adanya penemuan baru di Indonesia, sehingga produksi minyak bumi hanya mengandalkan sumur-sumur lama yang diperbaiki cara produksinya. Alangkah baiknya apabila eksplorasi kembali diperbaiki, membuka wilayah baru, dan menggeser arah menuju Indonesia bagian timur.

Tabel 1. Produksi minyak bumi pada saat peak, tahun peak dan produksi tahun 2006 beberapa negara.

Pada gambar 3, kita dapat melihat produksi minyak bumi di Indonesia dibandingkan negara penghasil minyak bumi yang lain yang tergabung dalam OPEC. Indonesia telah menjadi bagian dari negara-negara tersebut. Pada gambar tersebut diberitakan bahwa produksi minyak bumi di Indonesia pada tahun 2006 hanya 0.9 juta barel. Indonesia termasuk yang kedua dari bawah dalam hal besarnya produksi minyak bumi.

Pada tabel 2, kita dapat melihat konsumsi minyak bumi negara-negara pada tahun 2003. Indonesia cukup mengejutkan mempunyai konsumsi minyak bumi sebesar 1.155 juta barel. Bila kita bandingkan dengan tabel 1 atau gambar 3, berarti produksi dan konsumsi sudah tidak imbang. Negara kita mempunyai konsumsi yang lebih besar dari produksinya. Berarti semakin benar adanya peak oil dan net importer di Indonesia. Bila kita bandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang cukup boros. Bila kita bandingkan, konsumsi minyak bumi di Indonesia mendekati negara-negara yang sangat kaya minyak. Konsumsi 2003 (tabel 2) di Indonesia 1.155 juta barel berbanding dengan Saudi Arabia 1.514 juta barel, Iran 1.425 juta barel, dan Inggris 1.722 juta barel. Dari angka-angka tersebut, seakan-akan produksi minyak bumi di Indonesia menyaingi negara-negara kaya minyak tersebut. Padahal produksi 2006 (gambar 3) di Indonesia hanya mencapai 0.9 juta barel berbanding dengan Arab Saudi 9.2 juta barel dan Iran 3.8 juta barel.

Bila kita bandingkan lagi dengan negara-negara berkembang seperti negara tetangga kita Malaysia, yang juga berproduksi dan punya konsumsi yang berkembang, mereka masih bisa menyimpan hasil produksi minyak buminya. Hal ini dapat kita lihat dari tabel 1, dimana produksi minyak bumi di Malaysia pada tahun 2006 mencapai 0.68 juta barel, sedangkan konsumsi minyak bumi di Malaysia mencapai 0.51 juta barel (tabel 2).

Gambar 3. Produksi minyak bumi tahun 2006 negara-negara OPEC.

Dalam hal ini, negara kita sangat terlihat boros akan konsumsi minyak bumi. Memang negara kita mempunyai penduduk yang banyak, kurang lebih 230 juta jiwa, mempunyai wilayah yang secara geografis hampir sebesar benua eropa dan Amerika serikat, tetapi bila konsumsi ini tidak dapat ditahan, maka sudah pasti Indonesia akan menjadi negara terboros dan terkonsumtif akan minyak bumi di dunia (saat ini Amreika serikat). Perlu diingat bahwa keborosan dan konsumtif ini dipicu oleh BBM yang terus disubsidi oleh pemerintah, sehingga rakyat Indonesia tidak berpikir untuk menghemat, beralih ke energi lain, dan bahkan mau membangun energi alternatif lain. Bukanlah tidak mungkin bila nantinya kita termasuk negara terboros dan terkonsumtif di dunia.

Tabel 2. Konsumsi minyak bumi tahun 2003 dan pertambahan konsumsi beberapa negara.

Pada tabel 2, diperkirakan angka pertumbuhan konsumsi di Indonesia sebesar +51% pada jangka waktu 10 tahun mendatang. Angka sebesar tersebut sama dengan negara-negara kaya minyak bumi seperti Arab saudi +41%. Angka petumbuhan konsumsi tersebut juga sangat besar untuk negara-negara yang masih berkembang seperti Malaysia +52%, negara yang sedang gencar-gencarnya membangun seperti Cina +88% dan India +77%. Tetapi sebaliknya, pada negara-negara yang sudah berkembang, dimana mereka sudah mengerti akan kelangkaan minyak bumi, mereka tahu akan butuhnya energi alternatif, dan mereka mengerti akan kehematan, prediksi perkembangan konsumsi di negara-negara tersebut relatif menunjukkan angka negatif, seperti pada Jerman -8%, Italia -1%, Inggris -6% dan Rusia -29% (tabel 2).