Arsip untuk Desember, 2008

Heboh Gempa di Bandung

10 Desember 2008

Beberapa hari yang lalu dapat telp dari tante, katanya dia dengar berita, mau ada gempa 6,9 SR di Bandung. Wah, hebat nih, tiba-tiba seisi rumah panik. Dapat berita dari mana?

Selidik punya selidik, ternyata sepertinya berita tersebut simpang siur. Cari-cari berita, ternyata suatu pernyataan, bukan peringatan. Sepertinya ada stasiun berita yang mau bikin sensasi.

Berita yang benar adalah penyelidikan sesar lembang di utara kota Bandung. LIPI bekerja sama dengan peneliti dari Jepang akan meneliti sesar tersebut yang banyak disebut-sebut sebagai sesar yang tidak aktif. Sesar ini diperkirakan bukanlah tidak aktif, tetapi sedang dalam masa tidurnya.

Sesar lembang ini cukup panjang, mempunyai satu segmen sepanjang kurang lebih 20 km, sehingga berpotensi menimbulkan gempa 6,9 SR bila salah satu segmennya bergerak. Sesar ini bila diurut-urut mempunyai sistem memanjang dari ujung genteng, sukabumi, padalarang.

Dampak dari pergerakkan sesar ini adalah gempa dengan kekuatan yang sangat besar. Kota Bandung munkin akan menjadi salah satu korbannya. Mudah-mudahan sesar lembangnya tidur terus yah, kasihan perumahan yang persis terlewati di daerah utara sana. Semoga beritanya terklarifikasi.

Hemat Hepi Pake LPG, minyak tanah gimana?

10 Desember 2008

Membaca media massa awal desember ini, sungguh membuat saya senang, pasalnya beberapa iklan layanan masyarakat muncul disana. Dari DESDM mengeluarkan mengenai “ayo berhemat listrik” yang berisi “siapa berani memencet off”, serta “ayo beralih ke LPG!” yang berisi himbauan agar memakai LPG untuk memasak.

Memang setelah pemerintah mengkonversikan minyak tanah ke LPG, kita dapat melihat di jalan-jalan, kalau LPG 3 kg begitu populer (lihat tulisan saya sebelumnya). Pedagang, warung, kaki lima, rumah tangga, resto, cafe, sekarang banyak memakai LPG 3 kg tersebut. Sepertinya pemerintah sukses mengkonversikan dan mensosialisasikan LPG ini. Ditambah lagi, mudahnya membeli LPG 3 kg, kita bisa jumpai dimana-mana. Di SPBU sekarang ada LPG, di swalayan, toko-toko kecil, bahkan sekarang rumah tangga pun bisa menjual LPG 3 kg. Yang lebih hebat lagi, pedagang minyak tanah dorong, sekarang juga menjual LPG tersebut.

Iklan masyarakat tersebut telah mensosialisasikan keunggulan LPG. Dinamakan 4L yaituLPG hemat biaya, cepat matang, aman-mudah digunakan, dan ramah lingkungan. Kalau kita pikir-pikir, memang benar! Masakan lebih bersih, cepat matang, aman dan mudah. Isu-isu mengenai kompor yang meledak karena LPG, diperkirakan karena kesalahan pasang, atau selang dan regulator yang tidak aman.

lebih-ramah-lingkungan

Seiring waktu berjalan, saya bercengkrama dengan teman sangat dekat saya di ITB, dia menceritakan ke saya pengalaman berbicara dengan warga (daerah Cikampek) yang tidak jauh dari kesibukkan kota Jakarta.  Seorang ibu warga daerah tersebut menceritakan, sekarang ini minyak tanah sudah sulit, yang ada adalah LPG. Mungkin ibu tersebut memang sadar mahalnya minyak tanah,  serta lebih bersih dan baiknya LPG. Tetapi ibu tersebut berkata, saya ini tidak mempunyai pendidikan setinggi mbak, saya tidak setiap hari mempunyai uang, jadi saya lebih memilih minyak tanah. Dengan uang Rp 5000 saya bisa beli nyicil per liter, sesuai uang yang saya punya. Berbeda dengan LPG, saya harus beli per 3 kg dengan harga jual Rp 15000.

Wah, saya jadi perpikir, benar juga yah??? bagaimana solusinya ini??? apakah harus dijual per kg LPG nya??? Saya pikir, minyak tanah subsidi memang harus tetap ada, sejalan dengan LPG 3 kg yang ada saat ini. Minyak tanah tetap dibutuhkan masyarakat kita. Walaupun masyarakat kita telah modern memakai LPG, saya pikir minyak tanah tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat kita. Memang subsidi dan pemanfaatannya yang harus dijaga, agar tidak terjadi salah bidik dan sasaran. Mungkin ada baiknya, warga juga yang saling menjaga subsidi tersebut. Setidaknya pemerintah dapat memikirkan hal ini, walaupun subsidi nantinya akan dihapuskan perlahan.