Arsip untuk ‘Oil and Gas’ Kategori

Wilayah Kerja dan Split Keuntungan CBM Indonesia

14 September 2009

CBM (coal bed methane) atau disebut juga Gas Metana Batubara (GMB) merupakan energi alternatif yang sangat potensial pada saat ini. GMB ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan di Indonesia melalui beberapa wilayah kerja yang sangat berpotensi di Indonesia. Wilayah kerja yang dilelangkan merupakan wilayah yang dalam peta cekungan batubara memiliki formasi pembawa batubara yang baik, dan sudah terbukti memiliki batubara yang mempunyai potensi tinggi.

Untitled

GMB nantinya bisa saja berbarengan dengan penambangan batubara, hanya saja benefitnya adalah batubara dalam yang tidak bisa ditambang, akan diambil gas metananya untuk sumber energi baru. Benefit lainnya adalah dapat menggunakan infrastruktur yang sudah ada, seperti mengikuti pemboran minyak dan gas bumi, serta ikut dalam pipa-pipa yang sudah ada.

Pemerintah mengumumkan penawaran tiga wilayah kerja Gas Metana Batubara (WK GMB) melalui lelang penawaran langsung tahap satu tahun 2009. Ketiga wilayah kerja itu merupakan hasil studi bersama dua blok dan evaluasi bersama antara pemerintah dengan perusahaan yang mengusulkan.

Tiga wilayah kerja yang ditawarkan adalah Wilayah Kerja Gas Metana Batubara (GMB) Barito di Kalimantan Selatan, WK GMB Rengat di Sumatera Tengah, dan GMB Sanga-Sanga di Kalimantan Timur.

Ketentuan dan syarat yang diberlakukan terhadap ketiga WK GMB yang ditawarkan tersebut adalah FTP sebesar 10 persen, split (pemerintah:kontraktor) dengan perbandingan 55:45, seiling cost recovery 90 persen selama kontrak setelah produksi komersial.

Selain itu Ditjen Migas menawarkan satu wilayah kerja produksi melalui lelang penawaran langsung yaitu Blok Langgak, daratan Riau. Wilayah kerja produksi ini khusus ditawarkan hanya kepada Badan Usaha atau perusahaan nasional.

Produksi Migas dengan Pemerintahan Baru

15 Juli 2009

Ayooooo mari bergiat menambah produksi migas…

Kenapa saya tulis begini? karena prediksi-prediksi terbaru memberikan gambaran produksi migas kita akan terus terjun bebas, bila tidak ada penemuan baru, maka saya ingin memotifasi kepada rekan-rekan sekalian agar terus berjuang untuk menambah produksi migas kita…

5197_1115286934468_1595792693_30272999_5807254_n

Berbagai cara telah dilakukan, dari segi pemerintahan adalah dengan terus menawarkan blok-blok migas dan mempermudah cara-cara tender. Kemudian berbagai instansi juga membantu dengan menerbitkan peta prospek dan cekungan sedimen.

Hampir tiap tahun peta tersebut di update, kita bisa lihat berbagai versi telah terbit, coba buka BP Migas, Ditjen Migas, Lemigas, Universitas, serta lembaga-lembaga lain. Termasuk di tempat saya Badan Geologi, melalui pusat surveinya, telah mengeluarkan peta cekungan sedimen dengan cekungan lebih dari 100 (tepatnya 128 cekungan sedimen). Angka yang cukup fantastis, melihat selama ini kita berkutat dengan sekitar 60an cekungan.

5197_1115287854491_1595792693_30273009_251347_n

Point pentingnya adalah bagaimana kita mengeksplor cekungan-cekungan tersebut… Disaat sekarang, isu neoliberalisme sering sekali muncul, tetapi apa yang bisa kita lakukan? Sebaiknya isu-isu tersebut hendaknya sedikit diredam, karena perusahaan swasta telah banyak membantu kita (pemerintah Indonesia) untuk mengeluarkan hasil bumi kita.

Disini lah pentingnya peran pemerintah, dimana tetap yang jadi bos adalah kita! Kita lah bos dinegara sendiri… Bukan kita sekedar jadi pembantu, pembantu asing di negara sendiri!

Bagaimana caranya? yah lebih cepat lebih baik mengganti seluruh pucuk pimpinan perusahaan swasta dengan tenaga lokal. Informasi yang saya dapat, ada perusahaan migas asing yang sudah mulai ketar-ketir kebingungan jualan dan kontraknya dipersulit, ini bukan lain karena ingin melokalisasi semua pucuk pimpinan dari warga asing, menjadi warga lokal. Toh orang Indonesia sangat mampu menjadi bos di negeri sendiri…

Lihatlah negara-negara tetangga kita, sudah menjadi tuan di negeri sendiri. Saya dengar di Thailand, disana perusahaan asing boleh saja masuk dan mengambil isi perut bumi, tapi mereka mengharuskan mendidik tenaga lokal menjadi bos untuk perusahaan tersebut. Dalam jangka waktu beberapa tahun, hampir seluruh pucuk pimpinan perusahaan swasta asing di Thailand, wajib diduduki warga lokal yang telah dididik tersebut. Suatu ketegasan dan kelugasan yang belum kita miliki di Indonesia…

Suatu bukti lain adalah “PTTEP owns 44.45 percent of the Bongkot field, with Total E&P Thailand, a unit of France’s Total”. Saya pikir langkah tersebut sangat baik, pemerintah Thailand mengharuskan perusahaan swasta, untuk share dengan perusahaan migas lokal. Mungkin Pertamina yang memiliki blok-blok strategis harus melakukan seperti ini. Bukan sekedar menjual blok dengan sistem PSC yang ada seperti sekarang ini…

Semoga saja pemerintah sekarang, dengan presdien yang diLANJUTkan, mempunyai kewenangan yang akan lebih baik… Ayo tambah produksi!!!

Reduksi Emisi CO2 dengan Capture dan Storage

13 Mei 2009

Reduksi emisi gas karbon dioksida (CO2) ternyata banyak manfaatnya. Secara kesehatan, reduksi ini berguna menyegarkan udara yang kita hirup, membuat kita lebih bebas dan sehat menghirup udara terutama di perkotaan. Pada gambar 1, Indonesia sudah cukup meyumbang CO2 yang cukup besar kepada dunia.

Secara ekonomi, ternyata juga menguntungkan, karena pengurangan emisi gas tersebut menuntut berbagai produsen atau pabrik yang mengeluarkan CO2, memproduksi sebuah barang atau benda yang bisa menekan emisi gas tersebut. Dampak nya apa? bahwa produk tersebut ternyata meningkatkan mutu dan daya tahan barang. Mengapa demikian? karena pabrik tersebut terpaksa menggunakan teknologi baru dan ramah lingkungan, sehingga produk yang dihasilkan lebih bermutu dengan teknologi terkini.

Picture2gambar 1. Emisi CO2 dunia pada tahun 2005

Pada kendaraan bermotor yang telah berstandarisasi EURO 2, maka gas pembuangan kendaraan akan memenuhi batas CO2 yang diberikan. Hasilnya adalah pembakaran yang lebih baik, sehingga konsumsi bahan bakar kendaraan lebih irit dari sebelum EURO 2.

Emisi CO2 terbesar adalah dari sektor energi (pembangkit listrik) dan transportasi. Bila dalam sektor transportasi salah satunya dengan pembatasan gas buang, dalam sektor pembangkit listrik bisa dengan menggunakan energi alternatif. CO2 tersebut juga dapat digunakan untuk menambah produksi energi. Jadi pembatasan emisi gas buang sangatlah menguntungkan. Coba kita lihat lagi untuk sektor industri, dan sektor geologi (gambar 2).

Mengutip dari harian cetak Kompas (minggu pertama Mei 2009), terdapat sebuah perusahaan pemurnian karbon dioksida dari gas pembuangan pabrik di daerah Cilegon. Perusahaan tersebut beroperasi dengan menghasilkan karbon dioksida cair 3 ton per jam yang diambil dari CO2 PT Krakatau Steel. Menurut perusahaan tersebut, sebanyak 72 ton CO2 per hari langsung habis diserap pasar. Hasil pemurnian CO2 tersebut dipakai untuk proses pengawetan makanan, ikan, industri pengelasan, minuman ringan, hingga fumigasi. Selain dari pada itu, pemurnian CO2 juga dipakai untuk dijual dengan mekanisme pembangunan berih, dengan sertifikat pengurangan emisi per tonnya mencapai 10 euro.

Picture1

gambar 2. reduksi emisi CO2 dimanfaatkan dalam geologi.

Dalam halnya capture dan storage, skema ini dapat dipakai untuk menambah produksi minyak dan gas bumi, serta pada coal bed methane (CBM). Cara ini dipakai untuk enhanced oil recovery (EOR) yang membantu minyak dapat naik dari reservoir ke permukaan untuk di produksi (gambar 3). Dalam hal ini CO2 yang di tangkap (capture) dari berbagai tempat, seperti pabrik, di injeksikan kedalam reservoir melalui suatu lubang pemboran, kemudian pada sisi lubang pemboran lain minyak di produksi. Reservoir minyak dan gas bumi yang membentuk antiklin (depleted) juga dapat menjadi tempat yang baik untuk meyimpan CO2 ini. CO2 akan tersimpan dengan baik karena tertahan oleh batuan penutup (seal rock).

Picture20

gambar 3. beberapa metoda EOR.

Penggunaan lain adalah untuk membantu memproduksi CBM, metodanya sama seperti minyak, hanya saja kali ini pada lapisan batubara. CO2 tersebut juga dapat disimpan pada lapisan batubara yang tidak ditambang. Dalam hal ini, batubara tersebut kemungkinan memiliki kedalaman yang cukup dalam, sehingga kurang ekonomis untuk dikerjakan (gambar 2).

Penyimpanan CO2 lain adalah dengan menginjeksikannya kedalam akuifer di darat dan di laut (gambar 4).

gainen

gambar 4. skema penyimpanan CO2 pada akuifer.

Mineralisasi dengan bantuan CO2, dapat memberikan karbonisasi pada mineral yang berguna untuk kehidupan. Sebagai contoh pada gambar 5 dibawah adalah pencampuran batuan dengan CO2 menghasilkan mineral magnesit dan silika karbonat yang berguna. Produk lainnya adalah serpentinit dan dunit, seperti Ni, Co, Cr, Fe dan Mn.

Picture33

gambar 5. penggunaan CO2 pada mineral.

Pada gambar 6 dibawah ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan CO2 dalam rangka capture dan storage berguna untuk produksi migas, CBM, mineral, dan membantu mengurangi CO2 dengan menyimpannya di formasi geologi. CO2 didapatkan dari berbagai pabrik, pembangkit listrik, dan pabrik petrokimia. Nantinya CO2 ini akan menjadi siklus yang baik, dengan dimanfaatkannya lagi hasil pengolahan tersebut menjadi berbagai komoditas mineral, industri, dan membantu produksi migas.

Picture3gambar 6. skema reduksi CO2 dengan capture dan storage.

Sebenarnya dimana potensi pengembangan ini bisa diterapkan di Indonesia?

Picture4

Lagi-lagi Boros Energi!

23 April 2009

Baca kompas beberapa hari lalu (minggu ke-3 April 2009), ada artikel mengenai pemborosan energi. Lagi-lagi pemborosan energi,  YA! Kenapa??? karena Indonesia memang negara yang sangat boros akan energi. Lihat tulisan saya sebelumnya.

Akhirnya kompas memberikan artikel yang sangat menyentuh kita. Indonesia tidak begitu saja keluar dari krisis energi. Walaupun negara kita sedang bergembira dengan adanya BBM yang murah, tetapi hal ini justru memicu kenaikkan jumlah volume konsumsi BBM. Diperburuk lagi oleh adanya rangkaian pemilu 2009, yang turut menyumbang pemborosan disektor BBM.

Harga BBM subsidi saat ini sudah diatas harga keekonomiannya, hal ini dipicu oleh naiknya harga minyak mentah dunia dan terpuruknya nilai tukar rupiah kita. Hasil surplus BBM beberapa bulan lalu bukan tidak mungkin habis begitu saja oleh pembelian BBM pada saat-saat pemilu sekarang.

Mengutip dari kompas, sekitar 60 persen dari konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dihabiskan untuk aktivitas transportasi yang jelas-jelas tidak efisien, dimana seharusnya kereta api dan kapal laut dimanfaatkan sebagai tulang punggung transportasi yang hemat energi.

Begitu juga dengan listrik, masih juga tergantung oleh BBM. Berikut ini data yang saya dapatkan dari PLN. Dari data tersebut, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, uang dihambur-hamburkan untuk membeli BBM. Hal ini dikarenakan PLN bergantung kepada pembangkit listrik yang digerakkan oleh sektor hidrokarbon.

picture1

picture2

Padahal, dari konsumsi BBM sekitar 1,3 juta barrel per hari, Indonesia hanya mampu memproduksi 900.000 barrel per hari. Sisanya Indonesia mengimpor dari berbagai negara. Tahun 1980-an, Indonesia pernah memproduksi 1,6 juta barrel per hari dengan konsumsi 600.000 barrel per hari. Sehingga kita bisa menjadi negara pengekspor migas. Akhirnya kini Indonesia telah memutuskan keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Masyarakat di Indonesia termasuk yang terboros dalam hal pemanfaatan BBM. Perbandingan elastisitasnya 1,84. Jauh lebih boros dari Jepang dan Amerika Serikat, bahkan dibandingkan negara tetangga ASEAN. Malaysia 1,69, Thailand 1,16, Jepang hanya 0,10. Untuk meningkatkan per 1 USD GDP (produk domestik bruto), masyarakat kita butuh 1,84 kali lipat energi BBM. Memang ini tidak lepas dari negara kita yang negara berkembang, tetapi apakah haru sejauh itu borosnya???

Kalau segini borosnya ditambah lagi tidak ada enegi alternatif, maka bukan tidak mungkin bila energi kita akan habis dalam waktu dekat. Berikut ini saya tampilkan rasio cadangan dan produksi dari beberapa energi yang ada.

picture5

Murahnya energi BBM ini membuat orang-orang terlena akan nikmatnya energi fosil. Energi alternatif tidak berkembang karena tidak dapat bersaing dengan BBM bersubsidi tersebut. Bagaimana kalau diubah, energi alternatif yang di subsidi, sedangkan BBM tetap pada harga keekonomiannya. Kemudian pemerintah memberikan berbagai keringanan pada barang-barang yang menggunakan energi alternetif tersebut. Sebut saja kendaraan hybrid yang diberikan harga dan pajak lebih murah.

Langkah lain adalah menggunakan pembangkit listrik bertenaga alternatif (renewable energy). Hal ini lebih masuk akal dan mudah karena pembangkit listrik dapat bekerja pada energi fosil dan non-fosil dimana sektor transportasi lebih bergantung kepada minyak. Untuk sektor transportasi bisa diakali dengan pembebanan pada biofuel, standarisasi gas buang, dan pajak yang lebih tinggi.

Mari sama-sama berhemat dan mengembangkan energi alternatif…

Potensi Coal Bed Methane (CBM) sebagai energi alternatif di Indonesia

10 Maret 2009

Coal bed methane (CBM) merupakan sumber energi yang relatif masih baru. Sumber energi ini merupakan salah satu energi alternatif yang dapat diperbaharui penggunaannya. Gas metane yang diambil dari lapisan batubara ini dapat digunakan sebagai energi untuk berbagai kebutuhan manusia. Walaupun dari energi fosil yang tidak terbaharukan, tetapi gas ini terus terproduksi bila lapisan batubara tersebut ada. Kenapa? Yuk kita bahas sedikit.

Sebagaimana kita ketahui, batubara di Indonesia cadangan dan produksinya cukup menjanjikan. Dapat kita lihat pada gambar 1, dimana Indonesia termasuk negara produsen batubara dunia.

untitled1
Gambar 1. Negara dengan cadangan dan produksi batubara terbesar di dunia.

Seiring bertambahnya kebutuhan akan energi, baik untuk listrik dan transportasi, negara-negara berkembang seperti Indonesia juga membutuhkan suatu energi alternatif yang dapat terus dikembangkan. Dapat kita lihat pada gambar 2, dimana kebutuhan akan energi untuk pembangkit listrik terus berkembang. Salah satu pembangkit listrik di dunia yang paling dominan adalah dari energi batubara.

untitled2

Gambar 2. Sumber pemakaian energi untuk konsumsi listrik di dunia.

Berdasarkan perkiraan dari sebuah institusi di Prancis, maka konsumsi energi di dunia tetap akan memakai minyak, batubara dan gas sebagai energi primer (gambar 3). Projeksi ini memberikan gambaran sebagaimana pentingnya peran energi fosil sebagai energi yang ”harus” terbarukan. Kata-kata harus disini mungkin tidak masuk akal, karena energi tersebut memang habis dipakai (tidak dapat diperbaharui). Dengan adanya teknologi, riset dan pemikiran baru, maka sebuah lapisan batubara dapat memberikan sebuah energi baru berupa gas yang dapat kita pakai.

Bentuk CBM sama halnya dengan gas alam lainnya. Dapat dimanfaatkan rumah tangga, industri kecil, hingga industri besar. CBM biasanya didapati pada tambang batu bara non-tradisional, yang posisinya di bawah tanah, di antara rekahan-rekahan batu bara.

untitled3
Gambar 3. Energi primer yang dipakai di dunia.

Untuk memproduksi CBM, lapisan batubara harus terairi dengan baik sampai pada titik dimana gas terdapat pada permukaan batubara. Gas tersebut akan teraliri melalui matriks dan pori, dan keluar melalui rekahan atau bukaan yang terdapat pada sumur (gambar 4).

Air dalam lapisan batubara didapat dari adanya proses penggambutan dan pembatubaraan, atau dari masukan (recharge) air dalam outcrops dan akuifer. Air dalam lapisan tersebut dapat mencapai 90% dari jumlah air keseluruhan. Selama proses pembatubaraan, kandungan kelembaban (moisture) berkurang, dengan rank batubara yang meningkat.

untitled4
Gambar 4. Kaitan antara lapisan batubara, air dan sumur CBM.

Gas biogenik dari lapisan batubara subbituminus akan dapat berpotensi menjadi CBM. Gas biogenik tersebut terjadi oleh adanya reduksi bakteri dari CO2, dimana hasilnya berupa methanogens, bakteri anaerobik yang keras, menggunakan H2 yang tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2 menjadi metane sebagai by produk dari metabolismenya. Sedangkan beberapa methanogens membuat amina, sulfida, dan methanol untuk memproduksi metane.

Aliran air, dapat memperbaharui aktivitas bakteri, sehingga gas biogenik dapat berkembang hingga tahap akhir. Pada saat penimbunan maksimum, temperatur maksimum pada lapisan batubara mencapai 40-90°C, dimana kondisi ini sangat ideal untuk pembentukan bakteri metane. Metane tersebut terbentuk setelah aliran air bawah tanah pada saat ini telah ada.

Apabila air tanah turun, tekanan pada reservoir turun, pada saat ini CBM bermigrasi menuju reservoir dari sumber lapisan batubara. Perulangan kejadian ini merupakan regenerasi dari gas biogenik. Kejadian ini dipicu oleh naiknya air tanah atau lapisan batubara yang tercuci oleh air. Hal tersebut yang memberikan indikasi bahwa CBM merupakan energi yang dapat terbaharui.

Lapisan batubara dapat menjadi batuan sumber dan reservoir, karena itu CBM diproduksi secara insitu, tersimpan melalui permukaan rekahan, mesopore, dan mikropore (gambar 5). Permukaan tersebut menarik molekul gas, sehingga tersimpan menjadi dekat. Gas tersebut tersimpan pada rekahan dan sistem pori pada batubara sampai pada saat air merubah tekanan pada reservoir. Gas kemudian keluar melalui matriks batubara dan mengalir melalui rekahan sampai pada sumur. Gas tersebut sering kali terjebak pada rekahan-rekahan.

untitled5
Gambar 5. Kaitan antara porositas mikro, meso dan makro.

CBM juga dapat bermigrasi secara vertikal dan lateral ke reservoir batupasir yang saling berhubungan. Selain itu, dapat juga melalui sesar dan rekahan. Kedalaman minimal dari CBM yang telah dijumpai 300 meter dibawah permukaan laut.

Gas terperangkap pada lapisan batubara sangat bergantung pada posisi dari ketinggian air bawah tanah. Normalnya, tinggi air berada diatas lapisan batubara, dan menahan gas di dalam lapisan. Dengan cara menurunkan tinggi air, maka tekanan dalam reservoir berkurang, sehingga dapat melepaskan CBM (gambar 6).

untitled6Gambar 6. Penampang sumur CBM.

Pada saat pertama produksi, ada fasa dimana volume air akan dikurangi (dewatering) agar gas yang dapat diproduksi dapat meningkat. Setelah fasa ini, fasa-fasa produksi stabil akan terjadi. Seiring bertambahnya waktu, peak produksi akan terjadi, saat ini merupakan saat dimana produksi CBM mencapai titik maksimal dan akan turun (decline).

Volume gas yang diproduksi akan berbanding terbalik dengan volume air. Bila volume gas yang diproduksi tinggi, maka volume air akan berkurang. Setelah peak produksi, akan terjadi fasa selanjutnya, yaitu fasa penurunan produksi (gambar 7). Seperti produksi minyak dan gas pada umumnya, fasa-fasa tersebut biasa terjadi. Namun demikian, seperti yang telah diuraikan, CBM dapat terbaharukan.

untitled7Gambar 7. Volume vs time dalam produksi CBM.

untitled8
Gambar 8. Cadangan CBM Amerika.

Cadangan Coal Bed Methane (CBM) Indonesia saat ini cukup besar, yakni 450 TCS dan tersebar dalam 11 basin. Potensi terbesar terletak di kawasan Barito, Kalimantan Timur yakni sekira 101,6 TCS, disusul oleh Kutai sekira 80,4 TCS. Bandingkan dengan gambar 8, Amerika yang memiliki cadangan batubara cukup luas dan tersebar, hanya memiliki cadangan CBM yang relatif kecil.

Berdasarkan data Bank Dunia, konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17,5 TCS), dan Kutai (80,4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3,6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS).

Sebagai informasi, sumber daya terbesar sebesar 6,49 TCS ada di blok Sangatta-1 dengan operator Pertamina hulu energi methane Kalimantan A dengan basin di Kutai. Disusul Indragiri hulu dengan operator Samantaka mineral prima dengan basin Sumatera Selatan yang mempunyai sumber daya 5,50 TCS, dan sumber daya paling rendah terlatak di blok Sekayu yang dioperatori Medco SBM Sekayo dengan basin Sumatera Selatan, dengan sumber daya 1,70 TCS.

untitled9

Hemat Hepi Pake LPG, minyak tanah gimana?

10 Desember 2008

Membaca media massa awal desember ini, sungguh membuat saya senang, pasalnya beberapa iklan layanan masyarakat muncul disana. Dari DESDM mengeluarkan mengenai “ayo berhemat listrik” yang berisi “siapa berani memencet off”, serta “ayo beralih ke LPG!” yang berisi himbauan agar memakai LPG untuk memasak.

Memang setelah pemerintah mengkonversikan minyak tanah ke LPG, kita dapat melihat di jalan-jalan, kalau LPG 3 kg begitu populer (lihat tulisan saya sebelumnya). Pedagang, warung, kaki lima, rumah tangga, resto, cafe, sekarang banyak memakai LPG 3 kg tersebut. Sepertinya pemerintah sukses mengkonversikan dan mensosialisasikan LPG ini. Ditambah lagi, mudahnya membeli LPG 3 kg, kita bisa jumpai dimana-mana. Di SPBU sekarang ada LPG, di swalayan, toko-toko kecil, bahkan sekarang rumah tangga pun bisa menjual LPG 3 kg. Yang lebih hebat lagi, pedagang minyak tanah dorong, sekarang juga menjual LPG tersebut.

Iklan masyarakat tersebut telah mensosialisasikan keunggulan LPG. Dinamakan 4L yaituLPG hemat biaya, cepat matang, aman-mudah digunakan, dan ramah lingkungan. Kalau kita pikir-pikir, memang benar! Masakan lebih bersih, cepat matang, aman dan mudah. Isu-isu mengenai kompor yang meledak karena LPG, diperkirakan karena kesalahan pasang, atau selang dan regulator yang tidak aman.

lebih-ramah-lingkungan

Seiring waktu berjalan, saya bercengkrama dengan teman sangat dekat saya di ITB, dia menceritakan ke saya pengalaman berbicara dengan warga (daerah Cikampek) yang tidak jauh dari kesibukkan kota Jakarta.  Seorang ibu warga daerah tersebut menceritakan, sekarang ini minyak tanah sudah sulit, yang ada adalah LPG. Mungkin ibu tersebut memang sadar mahalnya minyak tanah,  serta lebih bersih dan baiknya LPG. Tetapi ibu tersebut berkata, saya ini tidak mempunyai pendidikan setinggi mbak, saya tidak setiap hari mempunyai uang, jadi saya lebih memilih minyak tanah. Dengan uang Rp 5000 saya bisa beli nyicil per liter, sesuai uang yang saya punya. Berbeda dengan LPG, saya harus beli per 3 kg dengan harga jual Rp 15000.

Wah, saya jadi perpikir, benar juga yah??? bagaimana solusinya ini??? apakah harus dijual per kg LPG nya??? Saya pikir, minyak tanah subsidi memang harus tetap ada, sejalan dengan LPG 3 kg yang ada saat ini. Minyak tanah tetap dibutuhkan masyarakat kita. Walaupun masyarakat kita telah modern memakai LPG, saya pikir minyak tanah tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat kita. Memang subsidi dan pemanfaatannya yang harus dijaga, agar tidak terjadi salah bidik dan sasaran. Mungkin ada baiknya, warga juga yang saling menjaga subsidi tersebut. Setidaknya pemerintah dapat memikirkan hal ini, walaupun subsidi nantinya akan dihapuskan perlahan.

Konversi minyak tanah ke gas

1 November 2008

Sering jalan-jalan ke kaki-kaki lima??? sering makan atau jajan di pinggir jalan??? atau minimal pernah lihat gerobak-gerobak di tempat-tempat orang jualan makanan??? hmmm… pastinya yah… terutama mahasiswa gini… pasti cari tempat makan murah, nikmat, banyak… perhatikan gerobaknya… ada sebuah alat yang berbeda…

YA!! bila anda cermat, akhir-akhir ini, pedagang-pedagang kaki lima sudah memakai tabung gas 3 kg (warna hijau muda) sebagai pengganti minyak tanah di gerobaknya… pedagang tersebut berhasil mengkonversikan kompor minyak tanah dengan tabung gas… praktisnya lagi, tabung 3 kg tersebut cukup mungil dan ringan… sehingga tidak susah untuk di bawa-bawa…

Saya pikir, ini suatu keberhasilan yang cukup membawa arti… selain membantu pemerintah mengurangi pemakaian bahan bakar minyak, juga mengurangi subsidi di minyak tanah… Coba kita main-main ke tempat penjualan minyak tanah… beberapa sudah tidak ramai lagi, walaupun masih banyak juga orang yang tetap membeli minyak tanah untuk berbagai kebutuhan, terutama memasak…

Iklan masyarakat dari pemerintah, yang menyerukan agar segera beralih ke gas 3 kg juga membuat masyarakat berfikir kedepan… dalam iklan tersebut terdapat beberapa perhitungan… jika minyak tanah dibandingkan dengan gas 3 kg, maka hasilnya akan lebih murah memakai gas 3 kg dalam memasak… perhitungan tersebut diyakini benar adanya… pedagang pun mulai berani memakai gas 3 kg tersebut… selain lebih hemat, tabung gas 3 kg juga lebih murah, dan yang terpenting, lebih bersih dan tidak kotor…

konversi dari minyak tanah ke gas 3 kg juga telah membawa perekonomian lebih maju… bila kita jalan-jalan ke beberapa daerah di dalam lingkungan masyarakat, mereka menjual tabung gas dan isi dengan harga yang lebih terjangkau… harga gas 3 kg yang lebih terjangkau tersebut membuat masyarakat dapat menjadi penjual, sehingga memberikan ekstra kepada sebuah keluarga… tambahan ekstra tersebut dapat mendorong majunya perekonomian di suatu masyarakat…

Saya pikir, konversi ini jangan hanya di kota dan daerah-daerah tertentu saja… tapi dapat lebih di luas kan… masih banyak keluarga-keluarga yang menginginkan konversi energi tersebut… ada baiknya pemerintah bersama-sama dengan daerah, memberikan penyuluhan agar masyarakat dapat mengkonversikan kompor minyak tanahnya, menjadi kompor gas… seperti terlihat dalam foto dibawah, sebuah kompor bekas penggunaan minyak tanah yang telah di ganti menjadi kompor gas..

Gambar dibawah, memperlihatkan seorang pedagang minyak tanah keliling, yang sekarang juga menjual gas 3kg selain minyak tanah…

07112008

Semoga konversi energi ini membantu masyarakat dan pemerintah dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak yang sudah begitu tingginya… Ketergantungan yang berkepanjangan ini harus terus diminimalisasikan… semoga kita semua menyadari ini, dan segera membantu pemerintah menekan konsumsi bahan bakar minyak… no more “subsidi” for better Indonesia… hehehe…

Keluar dari OPEC, minyak sempat turun kurang dari US$100

10 September 2008

Indonesia akhirnya resmi keluar dari OPEC (organisasi negara pengekspor minyak) setelah dikabulkan saat sidang OPEC di Wina.. Mengutip dari AFP, Rabu (10/9/2008) “OPEC dengan berat hati mengabulkan keinginan Indonesia untuk menghentikan sementara keanggotaan penuh di organisasi ini”..

Keluarnya Indonesia dikarenakan minyak di Indonesia sudah tidak lagi di ekspor.. Indonesia telah menjadi importir minyak.. Impor ini dikarenakan kebutuhan dalam negeri Indonesia yang tidak lagi dapat terpenuhi.. Saat ini Indonesia memproduksi minyak sebesar kurang lebih 950.000 barel per hari, sedangkan konsumsi Indonesia sebesar kurang lebih 1.300.000 barel per hari..

Terus turunnya produksi minyak dalam negeri dikarenakan lapangan-lapangan produksi minyak bumi di Indonesia yang sudah tua (mature field).. Minimnya eksplorasi, minimnya lapangan baru, dan sedikitnya giant oil filed di Indonesia, sehingga sedikit minyak yang dapat diambil dari dalam bumi kita.. IAGI (ikatan ahli geologi Indonesia) beberapa waktu lalu memberikan peta cekungan terbaru.. Hal ini berkaitan dengan upaya menaikkan eksplorasi migas di Indonesia.. Berkembangnya cekungan di Indonesia bukan lain karena semakin potensialnya migas di Indonesia..

Pada saat yang bersamaan, harga minyak mentah sempat turun sampai kurang dari US$ 100.. Selasa (9/9/2008) di London, minyak jenis Brent untuk pertama kalinya merosot hingga US$ 99,04 per barel.. Harga minyak menembus level tertingginya di US$ 147 per barel pada 11 Juni lalu, namun selanjutnya turun karena berbagai faktor seperti apresiasi dolar AS..

Penurunan harga ini diperkirakan karena lemahnya perekonomian diberbagai negara di dunia.. Penurunan konsumsi di berbagai negara juga memicu terjadinya oversupply minyak bumi.. Negara-negara OPEC menginginkan penurunan produksi sebesar 520.000 barel per hari.. Penurunan ini menjadi kontroversi karena negara-negara Arab menginginkan harga pasar minyak dunia tetap diatas US$ 100 per barel, sedangkan beberapa negara menginginkan dibawah US$100..

Bagaimana dengan Indonesia?? Saya kira semakin rendahnya harga minyak bumi, semakin menguntungkan pemerintah Indonesia, karena beban subsidi yang berkurang.. Rasanya harga US$ 100 per barel sudah cukup untuk Indonesia.. Selain tidak terlalu membebani pemerintah, eksplorasi dan produksi minyak di Indonesia tetap dapat berjalan sedemikin rupa.. Jadi tidak ada yang merasa dirugikan dengan harga tersebut.. Tinggal bagaimana kita menurunkan konsumsi energi tidak terbarukan ini..

Penurunan Harga Minyak Dunia

26 Juli 2008

Menarik diikuti perkembangan harga minyak dunia saat ini.. Setalah bertubi-tubi naik hampir ratusan persen, seminggu ini, harga minyak dunia turun cukup drastis..

Saya kutip dari salah satu media, “Pada perdagangan Jumat (25/7/2008) di New York, minyak jenis light kembali turun 1,55 dolar ke level US$ 123,94 per barel. Harga sempat menyentuh US$ 122,50 per barel, yang merupakan terendah sejak 5 Juni. Sementara minyak jenis Brent turun hingga 1,47 dolar ke level US$ 124,97 per barel”.

Hal ini sangat mengejutkan, dimana tadinya ekonomi negara-negara dunia anjlok karena tingginya harga minyak dunia, tetapi saat ini ekonomi mulai stabil dikarenakan harga minyak dunia yang terus turun.. Kecendrungan yang ada adalah bahwa musim panas membutuhkan energi lebih, sehingga biasanya harga minayk dunia akan naik..

Penurunan ini tidak lain karena semakin sadarnya orang akan mahalnya harga minyak bumi.. Penurunan konsumsi akan minyak dunia merupakan pemicu turunnya harga minyak bumi.. Amerika Serikat sebagai negara terboros konsumsi minyak bumi, telah dapat menurunkan konsumsinya hampir 300.000 barel per hari. Berbagai negara di eropa juga mulai membatasi pemakaian BBM untuk negaranya.. Mahalnya harga minyak bumi, menuntut manusia untuk berpikir jernih, berpikir lebih maju, dan berpikir dewasa akan pentingnya minyak bumi di masa mendatang.. Mereka mencoba mengurangi konsumsi agar tidak tertekan harga minyak bumi yang mahal, dan segera beralih ke energi baru yang lebih ekonomis..

Kenaikkan produksi minyak bumi negara-negara OPEC juga memberikan titik cerah, dimana mereka dapat memenuhi tuntutan akan tingginya permintaan akan minyak bumi.. Beberapa lapangan produksi minyak bumi terus berkembang, dan terdapatnya sumber-sumber baru ekonomis, sehingga turut menurunkan harga minyak bumi.. Hal-hal tersebut diatas yang dapat memberikan perbaikan untuk harga minyak dunia.. Dengan harga minyak dunia yang turun dan relatif stabil, maka perekonomian di negara-negara akan membaik..

Bagaimana dengan Indonesia???

Saya kira tidak demikian.. Mengapa? karena kita dapat lihat, bahwa kota-kota besar semakin semeraut. Kemacetan, pemborosan energi, polusi, pemadaman listrik, ekonomi yang tidak menentu, membuat negara kita semakin boros akan energi.. Kita lihat saja dijalan, semakin banyak kendaraan bermotor, kendaraan pribadi terutama.. Kemacetan berjam-jam, berkilo-kilo meter.. Polusi udara yang semakin menjadi.. Serta krisis energi listrik.. Merupakan contoh-contoh pemborosan energi..

Sekiranya pemerintah dapat lebih berperan aktif dalam memerangi pemborosan energi ini.. Seperti menggalakkan transportasi umum.. Menaikkan harga BBM ke harga jual pasar, sehingga orang sadar akan pentingnya BBM.. Memberikan pajak kendaraan bermotor berdasarkan gas buangnya.. Memberikan harga lebih tinggi ke pemakai listrik, dan masih banyak lagi..

diatas merupakan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan Jakarta, di sebalah kanan, merupakan rambu-rambu bengkel uji emisi. Sekiranya uji emisi lebih dapat digalakkan untuk memberikan pajak yang sesuai dengan gas emisi masing-masing kendaraan. Dengan membaiknya emisi kendaraan, sehingga kendaraan yang tidak lulus uji emisi, tidak dapat memperpanjang pajak kendaraannya. Membaiknya emisi kendaraan, membuat kendaraan boros BBM akan berkurang. Nantinya, kita dapat mencontoh negara-negara eropa, dimana tekanan gas emisi kendaraan akan mengurangi konmsumsi BBM negaranya..

Biofuel vs Bahan Pangan

17 Juli 2008

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca di surat kabar, bahwa biodiesel mendapat kecaman dari beberapa pihak di eropa, karena diperkirakan membuat hutan dunia gundul (berkurang). Aktifitas ini dikarena ramainya kegiatan pengambilan sawit dan produk agriculture lain untuk kepentingan pembuatan energi alternatif biofuel. Hal ini sangat bertolak belakang dengan orang-orang yang bergerak di bidang energi, karena dapat menghambat perkembangan dunia energi terutama untuk energi alternatif.

Pemanfaatan biodiesel juga memberikan dampak, bahwa harga minyak sayur (agriculture) terjadi lonjakkan karena kebutuhan yang meningkat. Sesuai dengan prinsip dalam ekonomi, dimana permintaan naik, tetapi penawaran tetap, sehingga harga minyak sayur (agriculture) terikut dampak kenaikan harga.

source: Total Professor Associate

Saat ini, harga minyak sayur (agriculture) mencapai Rp 10000-15000 per liter (info yang saya dapat dari surat kabar) berbanding dengan harga solar subsidi Rp 5500 per liter. Beberapa waktu yang lalu informasi ini saya dapatkan dari surat kabar, bahwa Pertamina sudah tidak dapat mengembangkan dan memakai kadar minyak sayur (agriculture) karena harga per liter minyak sayur (agriculture) tidak dapat menutupi harga produksi dan harga jual solar subsidi. Saat pertama kali biodiesel diperkenalkan di Indonesia, kadar bio mencapai 5%, sisanya 95% adalah solar murni. Kemudian Pertamina menurunkan kadar bio dalam biodiesel menjadi 2.5% karena harga minyak sayur (agriculture) naik. Beberapa saat yang lalu, Pertamina kembali menurunkan kadar bio menjadi hanya 1% dalam produk biodiesel. Hal ini dikarenakan tidak tertutupnya biaya produksi biodiesel dan Pertamina tidak dapat membayar harga minyak sayur (agriculture) yang mencapai Rp 10000-15000 per liternya. Semua ini karena masih disubsidinya harga solar di Indonesia, sehingga tidak bisa berkompetisi dengan energi alternatif.

source: Total Professor Associate

Mahalnya pembuatan biodiesel mencapai 120 dollar AS / barel (info gambar diatas) membuat Indonesia tidak dapat berkompetisi dalam harga jual kembali. Dilain pihak, biodiesel akan terus berkembang, terlihat oleh adanya kenaikkan pemakaian dari tahun 2000 hingga 2005 sebesar 295% (info gambar diatas). Meskipun terjadi konflik dalam pemakaian karena dipakai sebagai BBM dan makanan sehingga ikut menaikkan harga minyak sayur (agriculture) karena demand yang semakin meningkat, akan tetapi biodiesel akan tetap menjadi salah satu sumber energi alternatif. Di Indonesia, agar dapat bersaing dengan energi lain, maka pemerintah perlu menaikkan harga BBM, agar biodiesel dapat tertutupi biaya produksinya sehingga % bio dalam biodiesel dapat dinaikkan.