Restorasi Volvo 240

26 May 2011

Perjalanan panjang membuat mobil tua menjadi baik kembali dimulai. Setelah sebelumnya berkutat dengan jip, sekarang coba berkutat dengan sedan eropa tua. Dipilih merk Volvo karena kenyamanan, ketangguhan, dan jarang yang pakai. Diambil seri 240 karena seri ini merupakan salah satu seri yang masa hidupnya paling panjang, serta cikal-bakal seri volvo selanjutnya.

Pada saat mesin dan gearbox turun

Gearbox 5 speed

Bersih-bersih piston

Mesin legenda volvo B230 red block

Mesin baru duduk lagi, setelah dibersih-bersih

Bersama sang adik disamping..

Mesin siap jalan, tapi nanti dulu. Sektor lain belum beres ternyata

Karburator standar kembali disegarkan

Disc brake, bersih-bersih rem, dan kaki depan baru

begitu juga dengan rem dan kaki belakang, selanjutnya apa ya?

kayaknya cat kusem ya..

kerok abis dulu bodi kalau gitu

tuh.. sampe kalengnya keliatan semua..

rupanya pintu kanan depan pernah tabrakan

begitu juga spakbor depan, pernah hancur nih..

perbaikan bodi yang penyok dan dempulan deh mau gak mau

cat dasar udah.. siap masuk oven, biar garing cat nya..

dalam ruangan oven

hasilnya seperti apa ya?? penasarannnn…

mantap.. rapih banget bodinya sekarang, gak malu2in lagi… cuma masih kurang pernak-pernik kecil, masih ada yang belum dapet nih… hehehe…

Cakep banget pake velg “draco” warna gini.. kontras sama warna putihnya.. makin matep aja nih…

Jok rapih, gak ada sobek, interior masih oke…

Advertisements

Batubara di perbatasan Kalimantan Barat, Indonesia-Malaysia

26 May 2011

Cantiknya negeri ini.. begitulah satu kata yang paling baik untuk mem”fantasi”kan negeri tercinta Indonesia..

Bagaimana tidak, kita lihat saja dari sabang-merauke, berjajar pulau-pulau indah, hijau, dan segar.. Setidaknya itu lah yang terlihat secara global. beberapa waktu lalu saya diberikan kesempatan untuk menikmati Indonesia sampai ke wilayah perbatasan antara provinsi Kalimantan Barat dan Malaysia. Kegiatan tersebut tidak lain untuk mencari sumber energi baru yang dapat dimanfaatkan untuk wilayah perbatasan, juga untuk mendukung ketahanan Indonesia.

Lokasi berada di Desa Jasa, Kecamatan Senaning, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Perjalanan munggunakan jalan darat kurang lebih satu hari dari Pontianak. Jalan darat yang sangat-sangat rusak, hanya dapat ditempuh oleh mobil 4×4. Ini menjadi PR besar bagi pemerintah setempat. Belum lagi disisi jalan berupa kebun kelapa sawit yang semuanya dipegang oleh orang Malaysia. Pada saat kami sedang melintasi jalan ini, terdapat mobil plat Malaysia (mungkin bos-bosnya) lagi kontrol, alangkah mudahnya coba.

Kondisi jalan ke Kecamatan Senaning yang sangat tidak layak

Sampai ke desa tersebut harus menggunakan perahu kecil. Alangkah cantiknya perjalanan menembus desa tersebut. Disekeliling kita masih lihat pohon-pohon besar yang gagah, sungai yang bersih, udara yang segar.

Perjalanan ke Desa Jasa

Batubara di perbatasan ini tidak tebal, ketebalan kurang dari 1 meter, tetapi dari kenampakan fisiknya sangat baik. Benar saja, kalori batubara mencapai 7552 kal/gram, sehingga masuk pada batubara peringkat tinggi (high rank coal). Batubara ini terletak pada Formasi Ketungau. Kemiringan lapisan relatif datar, sehingga dapat diperkirakan penyebaran lateralnya cukup baik, hal ini dibuktikan dengan penyusuran Sungai Ketungau sepanjang kurang lebih 5 km, masih terdapat batubara disisi-sisi dinding sungai atau anak-anak Sungai Ketungau kearah utara. Berdasarkan informasi terdahulu, batubara secara lateral terhampar dari Desa Riam Sejawak – Desa Jasa – Desa Waksepan / Nanga Bayan.

Kenampakan batubara di sekitar Desa Jasa

Saat ini sepertinya sudah ada KP (kuasa pertambangan) yang mempunyai daerah tersebut, tetapi belum beroperasi sedikit pun. Kemungkinan besar dikarenakan sulitnya akses, dan tidak ekonomisnya daerah ini. Sangat disayangkan memang, Desa Jasa yang pada saat tersebut belum teraliri listrik PLN (ada mikrohidro, tapi rusak, dan tidak dapat diperbaiki), semestinya dapat dibantu oleh adanya sumber daya energi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lokal.

Desa Jasa ini merupakan desa paling utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia (info dari kepala desa), maka dari itu, disinilah terdapat tugu Garuda Indonesia yang merupakan simbol negara kita. Tugu ini konon dibangun agar penduduk Indonesia dan Malaysia dapat melihat dari kejauhan bahwa “anda telah memasuki kawasan Republik Indonesia”. Lagi-lagi kondisi tugu yang baru beberapa saat diresmikan tersebut sudah terlihat rusak dibeberapa titik.

Tugu Garuda Indonesia yang merupakan tugu perbatasan Indonesia

Malam gelap, tidak ada tv, dan hal hiburan lain, termasuk telepon genggam yang tidak dapat sinyal, merupakan hal yang sudah biasa. Kesibukan malam dilakukan dengan bercanda-gurau dengan warga setempat. Berdasarkan canda-gurau dengan warga tersebut, didapati informasi bahwa kebanyakan dari mereka juga bekerja untuk Malaysia. Ada yang bekerja sebagai buruh, perkebunan kelapa sawit, dan sebagainya. Untuk bahan pokok makanan, mereka juga lebih dekat ambil ke negeri seberang. Jalan ke Malaysia berupa jalan setapak yang juga merupakan jalan menuju pos lintas batas TNI. Begitu juga dengan petugas lintas batas TNI yang bertugas disana, mereka akan lebih senang (karena dekat) berbelanja kebutuhan pokok ke Malaysia. Menurut pengakuan mereka, Malaysia jauh lebih baik, dari Indonesia. Lihatlah disamping sana sudah jalan tol yang megah, sedangkan disisi kita berupa hutan belantara yang gelap tanpa listrik. Malaysia sendiri tidak punya pos lintas batas, tetapi menurut anggota TNI yang berjaga, mereka sewaktu-waktu ada sesuatu diperbatasan, tank, helikopter, pesawat jet, dan segala kekuatan tentara mereka sudah siap mendarat diatas jalan tol tersebut.

Kembali lagi ke masalah batubara. Adanya isu bahwa pertambangan batubara mereka (Malaysia) masuk sampai ke Indonesia, inilah tantangan yang harus kita buktikan. Batubara dari tambang Silantek di Malaysia merupakan batubara dari Formasi Silantek. Batubara disana memiliki ciri yang hampir mirip, tetapi ketebalannya mencapai 2 meter atau lebih. Kemiringan lapisan batubara sama, relatif landai. Kemungkinan besar, peringkat batubara lebih tinggi dari batubara Formasi Ketungau di wilayah Indonesia. Beberapa perbedaan ini memungkinkan pengendapan atau sejarah geologi yang berbeda antara batubara di Malaysia dengan di Indonesia.

Hal lain yang membuktikan adalah perbedaan kedalaman formasi batubara itu sendiri. Batubara di tambang Silantek 1000 meter lebih dibawah puncak Pegunungan Tutoop, berbeda dengan yang di wilayah Indonesia, batubara lebih diatasnya. Sehingga apabila dikorelasikan Formasi Silantek setara dengan Formasi Kantu jauh di selatan Desa Jasa. Apa lagi kemungkinan batubara di Formasi Silantek melensa karena kemiringan yang datar dan pengendapan yang berbeda-beda. Berdasarkan peninjauan terkini (berdasarkan komunikasi dengan yang baru-baru kesana), tambang Silantek masih bersifat tambang batubara konvensional, yang memakai kereta kecil untuk mengangkut batubara, dan tidak ada tambang dalam yang dapat menembus ribuan kilometer kebawah.

Akhirnya, kembali lagi ke keyakinan diri kita, apakah kita masih bisa berjaya di negeri sendiri, atau… hmm.. silahkan direnungkan…

Bersih-bersih solar Land Rover Td5

22 March 2010

Genap berusia 5 tahun (kalau dihitung dari STNK), atau 5 tahun lebih sedikit (dihitung dari tahun perakitan sesuai VIN), akhirnya Land Rover Defender Td5 mulai “keselek” solar busuk sepertinya. Gejala mulai susah start, performa menurun, asap hitam tebal…

Dugaan utama lemahnya pompa solar, kedua adalah solar busuk, dan ketiga kotornya sistem2 solar ke mesin – injektor. Akhirnya diputuskan untuk membongkar dan menurunkan tangki Defender Td5. Jarangnya populasi mobil ini, membuat kesulitan bengkel, padahal bengkel yang bersangkutan sudah sangat paham Land Rover. Tangki Defender Td5 terbuat dari bahan plastik, dibawahnya di tutup dan ditahan oleh besi. Besi penahan tersebut dibaut ke sasis, tetapi sangat sulit dibuka. Hasilnya, setengah hari untuk turun kan tangki tersebut.

Setelah tangki turun, ternyata tangki lumayan bersih, hanya saja kotoran berkumpul di saringan pompa solar. Saringan dibersihkan, pompa solar di coba di ember berisi solar, dan tekanannya sepertinya masih cukup kuat. Pompa solar tersebut sepertinya sama dengan punya BMW, karena terdapat tulisan BMW di tutup pompa solar tersebut.

Setelah tangki dibersihkan, filter di pompa dibersihkan, pompa solar dicoba dan masih berfungsi baik. maka pompa dirakit kembali. Hati-hati dalam merakit kembali, butuh kehati-hatian tinggi, kesabaran, dan ketelatenan tinggi. Banyak elektronik dan plastik yang mudah hancur. Butuh setengah hari lagi untuk menaikkan tangki tersebut, lagi-lagi kendalanya susahnya menyambungkan besi penahan dengan sasis.

Setelah tangki naik, dicoba masukkan pertamina DEX untuk bersih-bersih dan optimalisasi mesin-injektor. Bila melihat warna solar subsidi dengan pertamina DEX, jauh sekali kemurnian warnanya. Solar subsidi cenderung berwarna kuning kehitaman, banyak buih, alias kandungan air, sedangkan pertamina DEX warnanya kuning jernih (lebih jernih dari premium), tidak berbuih.

Setelah kurang lebih 15menit dihidupkan pakai pertamina DEX, tangki dicampur dengan solar subsidi, dengan komposisi 1:1, ditambahkan aditif solar dari redline 85 plus. Hasilnya adalah maknyus! Tenaga melimpah, asap knalpot tidak hitam (cenderung putih abu-abu), dan yang terpenting (mudah-mudahan) dalaman mesin-injektor segar dan bersih kembali…

Kesimpulannya, perlu juga untuk bersih-bersih tangki dan filter didalam pompa tersebut. Sepertinya perlu membuat lubang dari dalam cabin belakang, gunanya untuk memudahkan menurun kan tangki, tanpa membuka besi penahan yang terbaut dengan sasis. Lubang tersebut dalam forum Land Rover di Inggris pernah dibicarakan (lebih baik coba googling). Mesin Td5 baiknya memang memakai solar dengan spec tinggi, karena mesin tersebut dibuat agar memenuhi standar EURO 3. Perlu juga aditif solar untuk bersih-bersih sistem solar dan mesin-injektor…

Dimana Lapangan Migas Terbesar?

22 January 2010

Lagi iseng lihat-lihat, dapet lapangan migas terbesar di dunia.. diurutkan sampai 24 terbesar di dunia.. dimana saja yah? ohh, rupanya sebagian besar ada di timur tangah…

hmm, Indonesia ada gak yah? ternyata tidak ada.. yah mungkin saatnya evaluasi diri, agar 60 cekungan yang ada dimanfaatkan sebaik-baiknya…

Field, Country Size estimate
1. Ghawar, Saudi Arabia 75-83 billion barrels
Saudi fields overall are in decline at 2% to 8% a year.
2. Burgan, Kuwait • in decline 66-72 billion barrels
3. Cantarell, Mexico • in decline 35 billion barrels
(often listed as a large complex of multiple smaller fields) 18 billion recoverable
4. Bolivar Coastal, Venezuela 30-32 billion barrels
5. Safaniya-Khafji, Saudi Arabia/Neutral Zone 30 billion barrels
6. Rumailia, Iraq 20 billion barrels
7. Tengiz, Kazakhstan • significant production to come 15-26 billion barrels
8. Ahwaz, Iran • in decline 17 billion barrels
9. Kirkuk, Iraq 16 billion barrels
10. Marun, Iran 16 billion barrels
11. Daqing, China • in decline 16 billion barrels
12. Gachsaran, Iran 15 billion barrels
13. Aghajari, Iran 14 billion barrels
14. Samotlor, West Siberia, Russia • in decline 14-16 billion barrels
15.Prudhoe Bay, Alaska, USA • in decline 13 billion barrels
16. Kashagan, Kazakhstan • significant production to come 13 billion barrels
17. Abqaiq, Saudi Arabia 12 billion barrels
18. Romashkino, Volga-Ural, Russia • in decline 12-14 billion barrels
19. Chicontepec, Mexico 12 billion barrels
20. Berri, Saudi Arabia 12 billion barrels
21. Zakum, Abu Dhabi, UAE 12 billion barrels
22. Manifa, Saudi Arabia 11 billion barrels
23. Faroozan-Marjan, Saudi Arabia/Iran 10 billion barrels
24. Marlim, Campos, Brazil • in decline 10-14 billion barrels

Wilayah Kerja dan Split Keuntungan CBM Indonesia

14 September 2009

CBM (coal bed methane) atau disebut juga Gas Metana Batubara (GMB) merupakan energi alternatif yang sangat potensial pada saat ini. GMB ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan di Indonesia melalui beberapa wilayah kerja yang sangat berpotensi di Indonesia. Wilayah kerja yang dilelangkan merupakan wilayah yang dalam peta cekungan batubara memiliki formasi pembawa batubara yang baik, dan sudah terbukti memiliki batubara yang mempunyai potensi tinggi.

Untitled

GMB nantinya bisa saja berbarengan dengan penambangan batubara, hanya saja benefitnya adalah batubara dalam yang tidak bisa ditambang, akan diambil gas metananya untuk sumber energi baru. Benefit lainnya adalah dapat menggunakan infrastruktur yang sudah ada, seperti mengikuti pemboran minyak dan gas bumi, serta ikut dalam pipa-pipa yang sudah ada.

Pemerintah mengumumkan penawaran tiga wilayah kerja Gas Metana Batubara (WK GMB) melalui lelang penawaran langsung tahap satu tahun 2009. Ketiga wilayah kerja itu merupakan hasil studi bersama dua blok dan evaluasi bersama antara pemerintah dengan perusahaan yang mengusulkan.

Tiga wilayah kerja yang ditawarkan adalah Wilayah Kerja Gas Metana Batubara (GMB) Barito di Kalimantan Selatan, WK GMB Rengat di Sumatera Tengah, dan GMB Sanga-Sanga di Kalimantan Timur.

Ketentuan dan syarat yang diberlakukan terhadap ketiga WK GMB yang ditawarkan tersebut adalah FTP sebesar 10 persen, split (pemerintah:kontraktor) dengan perbandingan 55:45, seiling cost recovery 90 persen selama kontrak setelah produksi komersial.

Selain itu Ditjen Migas menawarkan satu wilayah kerja produksi melalui lelang penawaran langsung yaitu Blok Langgak, daratan Riau. Wilayah kerja produksi ini khusus ditawarkan hanya kepada Badan Usaha atau perusahaan nasional.

Produksi Migas dengan Pemerintahan Baru

15 July 2009

Ayooooo mari bergiat menambah produksi migas…

Kenapa saya tulis begini? karena prediksi-prediksi terbaru memberikan gambaran produksi migas kita akan terus terjun bebas, bila tidak ada penemuan baru, maka saya ingin memotifasi kepada rekan-rekan sekalian agar terus berjuang untuk menambah produksi migas kita…

5197_1115286934468_1595792693_30272999_5807254_n

Berbagai cara telah dilakukan, dari segi pemerintahan adalah dengan terus menawarkan blok-blok migas dan mempermudah cara-cara tender. Kemudian berbagai instansi juga membantu dengan menerbitkan peta prospek dan cekungan sedimen.

Hampir tiap tahun peta tersebut di update, kita bisa lihat berbagai versi telah terbit, coba buka BP Migas, Ditjen Migas, Lemigas, Universitas, serta lembaga-lembaga lain. Termasuk di tempat saya Badan Geologi, melalui pusat surveinya, telah mengeluarkan peta cekungan sedimen dengan cekungan lebih dari 100 (tepatnya 128 cekungan sedimen). Angka yang cukup fantastis, melihat selama ini kita berkutat dengan sekitar 60an cekungan.

5197_1115287854491_1595792693_30273009_251347_n

Point pentingnya adalah bagaimana kita mengeksplor cekungan-cekungan tersebut… Disaat sekarang, isu neoliberalisme sering sekali muncul, tetapi apa yang bisa kita lakukan? Sebaiknya isu-isu tersebut hendaknya sedikit diredam, karena perusahaan swasta telah banyak membantu kita (pemerintah Indonesia) untuk mengeluarkan hasil bumi kita.

Disini lah pentingnya peran pemerintah, dimana tetap yang jadi bos adalah kita! Kita lah bos dinegara sendiri… Bukan kita sekedar jadi pembantu, pembantu asing di negara sendiri!

Bagaimana caranya? yah lebih cepat lebih baik mengganti seluruh pucuk pimpinan perusahaan swasta dengan tenaga lokal. Informasi yang saya dapat, ada perusahaan migas asing yang sudah mulai ketar-ketir kebingungan jualan dan kontraknya dipersulit, ini bukan lain karena ingin melokalisasi semua pucuk pimpinan dari warga asing, menjadi warga lokal. Toh orang Indonesia sangat mampu menjadi bos di negeri sendiri…

Lihatlah negara-negara tetangga kita, sudah menjadi tuan di negeri sendiri. Saya dengar di Thailand, disana perusahaan asing boleh saja masuk dan mengambil isi perut bumi, tapi mereka mengharuskan mendidik tenaga lokal menjadi bos untuk perusahaan tersebut. Dalam jangka waktu beberapa tahun, hampir seluruh pucuk pimpinan perusahaan swasta asing di Thailand, wajib diduduki warga lokal yang telah dididik tersebut. Suatu ketegasan dan kelugasan yang belum kita miliki di Indonesia…

Suatu bukti lain adalah “PTTEP owns 44.45 percent of the Bongkot field, with Total E&P Thailand, a unit of France’s Total”. Saya pikir langkah tersebut sangat baik, pemerintah Thailand mengharuskan perusahaan swasta, untuk share dengan perusahaan migas lokal. Mungkin Pertamina yang memiliki blok-blok strategis harus melakukan seperti ini. Bukan sekedar menjual blok dengan sistem PSC yang ada seperti sekarang ini…

Semoga saja pemerintah sekarang, dengan presdien yang diLANJUTkan, mempunyai kewenangan yang akan lebih baik… Ayo tambah produksi!!!

BB yah Batubara, Apa itu?

8 June 2009

Kemaren sempet ditanya2, sekalian bikin presentasi untuk dasar2 geologi umum… Salah satunya mengenai batubara…

Mungkin memang sangat dasar, malah di situs2 lain juga sudah banyak… tapi ingin menambahkan dan melengkapkan saja, siapa tau berguna juga untuk yang lain…

Dengar2 malah mata kuliah batubara juga mulai dihilangkan dan ditinggalkan dari perkuliahan geologi… yah semoga saling memberikan wawasan kepada pembaca dan saya… enjoyyy…

Slide2Setelah itu, bagaimana sih cara terbentuknya? kok ada pengawetan tanaman yang tertimbun segala?

Slide3

Slide4

oohhh.. jadi begitu terjadinya, lantas bagaimana kita tau kalau batubara tersebut termasuk yang kualitas bagus atau tidak? kan ada yang lignit, bituminus, dan antrasit…

Slide5

Slide6

Slide7

Setelah kita tahu kualitasnya, trus kualifikasinya bagaimana? apa sih tujuan kualifikasi ini?

Slide8

Slide9

Wah sudah mulai cerah nih, apa malah gak ngerti? hehehe.. jadi batubara itu bisa ditemukan dimana di Indonesia?

Slide10

Slide11Wah banyak juga yah di Indonesia… setelah tau begitu, bagaimana cara ngambilnya yah? apa saja sih tahap-tahap eksplorasinya?

Slide13

Slide14

Slide15

Oke… setelah kita ambil, mau kita apakan batubara tersebut? Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batubara dunia… selain di ekspor, batubara juga dipakai untuk kebutuhan domestik…

Slide16

Slide17

wah, berarti semakin banyak kebutuhan akan batubara yah… bisa menjadi energi masa depan juga, walaupun batubara sudah dipakai sejak dulu kala…

sekian dulu… semoga sama-sama belajar dan berguna…

Reduksi Emisi CO2 dengan Capture dan Storage

13 May 2009

Reduksi emisi gas karbon dioksida (CO2) ternyata banyak manfaatnya. Secara kesehatan, reduksi ini berguna menyegarkan udara yang kita hirup, membuat kita lebih bebas dan sehat menghirup udara terutama di perkotaan. Pada gambar 1, Indonesia sudah cukup meyumbang CO2 yang cukup besar kepada dunia.

Secara ekonomi, ternyata juga menguntungkan, karena pengurangan emisi gas tersebut menuntut berbagai produsen atau pabrik yang mengeluarkan CO2, memproduksi sebuah barang atau benda yang bisa menekan emisi gas tersebut. Dampak nya apa? bahwa produk tersebut ternyata meningkatkan mutu dan daya tahan barang. Mengapa demikian? karena pabrik tersebut terpaksa menggunakan teknologi baru dan ramah lingkungan, sehingga produk yang dihasilkan lebih bermutu dengan teknologi terkini.

Picture2gambar 1. Emisi CO2 dunia pada tahun 2005

Pada kendaraan bermotor yang telah berstandarisasi EURO 2, maka gas pembuangan kendaraan akan memenuhi batas CO2 yang diberikan. Hasilnya adalah pembakaran yang lebih baik, sehingga konsumsi bahan bakar kendaraan lebih irit dari sebelum EURO 2.

Emisi CO2 terbesar adalah dari sektor energi (pembangkit listrik) dan transportasi. Bila dalam sektor transportasi salah satunya dengan pembatasan gas buang, dalam sektor pembangkit listrik bisa dengan menggunakan energi alternatif. CO2 tersebut juga dapat digunakan untuk menambah produksi energi. Jadi pembatasan emisi gas buang sangatlah menguntungkan. Coba kita lihat lagi untuk sektor industri, dan sektor geologi (gambar 2).

Mengutip dari harian cetak Kompas (minggu pertama Mei 2009), terdapat sebuah perusahaan pemurnian karbon dioksida dari gas pembuangan pabrik di daerah Cilegon. Perusahaan tersebut beroperasi dengan menghasilkan karbon dioksida cair 3 ton per jam yang diambil dari CO2 PT Krakatau Steel. Menurut perusahaan tersebut, sebanyak 72 ton CO2 per hari langsung habis diserap pasar. Hasil pemurnian CO2 tersebut dipakai untuk proses pengawetan makanan, ikan, industri pengelasan, minuman ringan, hingga fumigasi. Selain dari pada itu, pemurnian CO2 juga dipakai untuk dijual dengan mekanisme pembangunan berih, dengan sertifikat pengurangan emisi per tonnya mencapai 10 euro.

Picture1

gambar 2. reduksi emisi CO2 dimanfaatkan dalam geologi.

Dalam halnya capture dan storage, skema ini dapat dipakai untuk menambah produksi minyak dan gas bumi, serta pada coal bed methane (CBM). Cara ini dipakai untuk enhanced oil recovery (EOR) yang membantu minyak dapat naik dari reservoir ke permukaan untuk di produksi (gambar 3). Dalam hal ini CO2 yang di tangkap (capture) dari berbagai tempat, seperti pabrik, di injeksikan kedalam reservoir melalui suatu lubang pemboran, kemudian pada sisi lubang pemboran lain minyak di produksi. Reservoir minyak dan gas bumi yang membentuk antiklin (depleted) juga dapat menjadi tempat yang baik untuk meyimpan CO2 ini. CO2 akan tersimpan dengan baik karena tertahan oleh batuan penutup (seal rock).

Picture20

gambar 3. beberapa metoda EOR.

Penggunaan lain adalah untuk membantu memproduksi CBM, metodanya sama seperti minyak, hanya saja kali ini pada lapisan batubara. CO2 tersebut juga dapat disimpan pada lapisan batubara yang tidak ditambang. Dalam hal ini, batubara tersebut kemungkinan memiliki kedalaman yang cukup dalam, sehingga kurang ekonomis untuk dikerjakan (gambar 2).

Penyimpanan CO2 lain adalah dengan menginjeksikannya kedalam akuifer di darat dan di laut (gambar 4).

gainen

gambar 4. skema penyimpanan CO2 pada akuifer.

Mineralisasi dengan bantuan CO2, dapat memberikan karbonisasi pada mineral yang berguna untuk kehidupan. Sebagai contoh pada gambar 5 dibawah adalah pencampuran batuan dengan CO2 menghasilkan mineral magnesit dan silika karbonat yang berguna. Produk lainnya adalah serpentinit dan dunit, seperti Ni, Co, Cr, Fe dan Mn.

Picture33

gambar 5. penggunaan CO2 pada mineral.

Pada gambar 6 dibawah ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan CO2 dalam rangka capture dan storage berguna untuk produksi migas, CBM, mineral, dan membantu mengurangi CO2 dengan menyimpannya di formasi geologi. CO2 didapatkan dari berbagai pabrik, pembangkit listrik, dan pabrik petrokimia. Nantinya CO2 ini akan menjadi siklus yang baik, dengan dimanfaatkannya lagi hasil pengolahan tersebut menjadi berbagai komoditas mineral, industri, dan membantu produksi migas.

Picture3gambar 6. skema reduksi CO2 dengan capture dan storage.

Sebenarnya dimana potensi pengembangan ini bisa diterapkan di Indonesia?

Picture4

Lagi-lagi Boros Energi!

23 April 2009

Baca kompas beberapa hari lalu (minggu ke-3 April 2009), ada artikel mengenai pemborosan energi. Lagi-lagi pemborosan energi,  YA! Kenapa??? karena Indonesia memang negara yang sangat boros akan energi. Lihat tulisan saya sebelumnya.

Akhirnya kompas memberikan artikel yang sangat menyentuh kita. Indonesia tidak begitu saja keluar dari krisis energi. Walaupun negara kita sedang bergembira dengan adanya BBM yang murah, tetapi hal ini justru memicu kenaikkan jumlah volume konsumsi BBM. Diperburuk lagi oleh adanya rangkaian pemilu 2009, yang turut menyumbang pemborosan disektor BBM.

Harga BBM subsidi saat ini sudah diatas harga keekonomiannya, hal ini dipicu oleh naiknya harga minyak mentah dunia dan terpuruknya nilai tukar rupiah kita. Hasil surplus BBM beberapa bulan lalu bukan tidak mungkin habis begitu saja oleh pembelian BBM pada saat-saat pemilu sekarang.

Mengutip dari kompas, sekitar 60 persen dari konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dihabiskan untuk aktivitas transportasi yang jelas-jelas tidak efisien, dimana seharusnya kereta api dan kapal laut dimanfaatkan sebagai tulang punggung transportasi yang hemat energi.

Begitu juga dengan listrik, masih juga tergantung oleh BBM. Berikut ini data yang saya dapatkan dari PLN. Dari data tersebut, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, uang dihambur-hamburkan untuk membeli BBM. Hal ini dikarenakan PLN bergantung kepada pembangkit listrik yang digerakkan oleh sektor hidrokarbon.

picture1

picture2

Padahal, dari konsumsi BBM sekitar 1,3 juta barrel per hari, Indonesia hanya mampu memproduksi 900.000 barrel per hari. Sisanya Indonesia mengimpor dari berbagai negara. Tahun 1980-an, Indonesia pernah memproduksi 1,6 juta barrel per hari dengan konsumsi 600.000 barrel per hari. Sehingga kita bisa menjadi negara pengekspor migas. Akhirnya kini Indonesia telah memutuskan keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Masyarakat di Indonesia termasuk yang terboros dalam hal pemanfaatan BBM. Perbandingan elastisitasnya 1,84. Jauh lebih boros dari Jepang dan Amerika Serikat, bahkan dibandingkan negara tetangga ASEAN. Malaysia 1,69, Thailand 1,16, Jepang hanya 0,10. Untuk meningkatkan per 1 USD GDP (produk domestik bruto), masyarakat kita butuh 1,84 kali lipat energi BBM. Memang ini tidak lepas dari negara kita yang negara berkembang, tetapi apakah haru sejauh itu borosnya???

Kalau segini borosnya ditambah lagi tidak ada enegi alternatif, maka bukan tidak mungkin bila energi kita akan habis dalam waktu dekat. Berikut ini saya tampilkan rasio cadangan dan produksi dari beberapa energi yang ada.

picture5

Murahnya energi BBM ini membuat orang-orang terlena akan nikmatnya energi fosil. Energi alternatif tidak berkembang karena tidak dapat bersaing dengan BBM bersubsidi tersebut. Bagaimana kalau diubah, energi alternatif yang di subsidi, sedangkan BBM tetap pada harga keekonomiannya. Kemudian pemerintah memberikan berbagai keringanan pada barang-barang yang menggunakan energi alternetif tersebut. Sebut saja kendaraan hybrid yang diberikan harga dan pajak lebih murah.

Langkah lain adalah menggunakan pembangkit listrik bertenaga alternatif (renewable energy). Hal ini lebih masuk akal dan mudah karena pembangkit listrik dapat bekerja pada energi fosil dan non-fosil dimana sektor transportasi lebih bergantung kepada minyak. Untuk sektor transportasi bisa diakali dengan pembebanan pada biofuel, standarisasi gas buang, dan pajak yang lebih tinggi.

Mari sama-sama berhemat dan mengembangkan energi alternatif…

Konsumsi dan Produksi Turun, Harga Minyak Stabil

16 March 2009

Mengikuti perkembangan harga minyak dunia saat ini sangatlah fluktuatif. Setelah harga minyak dunia turun, sempat turun sampai titik terendah sekitar US$ 30 / barel, sekarang ini kalau kita lihat, sudah cukup stabil di kisaran US$ 40-45 / barel.

Kestabilan harga ini dicapai akibat adanya kestabilan antara konsumsi dan produksi. Setelah dilaporkan konsumsi minyak di negara-negara maju turun, saat ini konsumsi minyak sedikit naik dan relatif stabil. Penurunan ini merupakan dampak dari pelemahan aktivitas ekonomi dunia. Setelah adanya suntikan dana-dana baru di beberbagai negara, ekonomi dunia sedkit terdongkrak.

Naiknya ekonomi membuat konsumsi minyak dunia telah memperlihatkan kestabilan, dimana negara-negara maju seperti Amerika dan UE telah berangsur-angsur pulih. Akibat penurunan konsumsi, minyak dunia sempat turun sangat drastis dari titik tertinggi pertengahan tahun lalu. Untuk menyesuaikan dengan konsumsi yang menurun, produksi minyak sedikit ditahan, agar stok minyak tidak melebihi kapasitas konsumsi.

OPEC sebagai negara-negara penghasil minyak dunia telah menurunkan produksinya. OPEC menurunkan produksinya sebesar 2,2 juta barel / hari pada September 2008. Pada bulan Desember 2008, OPEC kembali menurunkan produksinya. Total pemotongan produksi sejak September 2008 sampai Desember 2008 sebesar 4,2 juta barel / hari. Jumlah produksi OPEC saat ini adalah 24,85 juta barel / hari.

Akibat pemangkasan produksi dan konsumsi yang telah stabil tersebut, dapat kita lihat dampaknya berupa harga minyak yang relatif lebih stabil juga.

Bagaimana dengan Indonesia???

Pemerintah beruntung, subdisi menurun, bahkan sempat surplus, impor minyak murah. Memenuhi kebutuhan domestik sangatlah mudah. Tetapi tidak begitu saja. Harga ekspor minyak dan gas kita ikut murah. Konsumsi dunia yang turun, ikut juga berdampak dengan ekspor minyak dan gas kita.

Minyak dan gas yang kita ekspor untuk beberapa saat ini tidak terjual ke negara-negara pembeli. Akibatnya stok sedikit menumpuk. Ada baiknya memang minyak dan gas yang belum terekspor kita pakai untuk kebutuhan dalam negeri. Setidaknya kita bisa menikmati minyak dan gas kita yang memiliki kualitas bagus. Langkah pemerintah sudah baik, tinggal dilaksanakan. Ikut-ikut iklan kampanye… “Ayo LANJUTKAN”

picture-004