Jalan VS Pejabat

Setelah beberapa kali pernah membaca tulisan dari orang2 mengenai pejabat yang selalu berwenang di jalan, akhirnya saya pernah mengalaminya. Pada hari Rabu, tanggal 5 November 2008, saya mengalami sebuah kejadian yang cukup menguras perhatian saya.

Pada jam 14.30, cuaca hujan, saya mengeluarkan mobil dari garasi rumah. Mobil mundur dari garasi menuju jalan imam bonjol, jalan yang tidak pernah sepi dari kendaraan yang lalu lalang. Jalan tersebut selain jalan alternatif ke dago dan dipatiukur, juga jalan perumahan, sehingga banyak mobil2 tamu yang parkir di pinggir jalan. Mobil saya dalam posisi muka menghadap ke rumah, bukan ke jalan. Melihat kanan-kiri kosong, saya menurunkan mobil, dengan pantat mobil mengarah ke utara, dan pandangan saya ke arah selatan. Saya berniat berjalan ke arah selatan.

Pertama yang terlihat saat mobil menghadap ke selatan adalah, sebuah mobil Toyota Ist berwarna coklat. Dengan pengalaman tinggal dan mengemudi beberapa tahun di jalan imam bonjol tersebut, saya mengetahui bahwa mobil tersebut tidak mau memberikan kesempatan untuk saya berjalan ke arah selatan. Kondisi saat itu, melihat pandangan ke depan, di sebelah kiri, mobil parkir berderet dengan menyisakan suatu celah kecil. Melihat pandangan ke belakang, di sebelah kanan, mobil juga parkir berderet.

Mobil Toyota tersebut terus saja masuk ke arah utara, menghampiri mobil saya. Spontan dan refleks, saya mempersilahkan dia lewat, dengan cara memasukkan mobil saya ke celah kecil di kiri. Telah terpikir oleh saya bahwa mobil tersebut akan sangat mepet ke mobil saya. Pada saat tersebut, saya mengemudikan mobil yang cukup lebar yaitu Land Rover Defender.

Menyisakan jalan yang sempit, mobil Toyota tersebut tetap saja melaju dengan memaksakan kendaraannya. Begitu lewat setengah badan mobil, sepertinya dia mulai menggeser trotoar di sebelah kirinya, dan mulai menggeser karet foot step bagian kanan mobil saya. Pada saat itu, saya tidak merasakan gesekkan tersebut, hanya saja, dari mobil Toyota terdengar teriakkan “kena..kena..”. Saya melihat kearah jendela kanan, memang mobil sudah seperti menempel. Mobil Toyota pun diam dan tidak berani bergerak. Mobil tersebut dikendarai oleh wanita mahasiswa berumur sekitar 18-20 tahun. Saya pun spontan melepaskan gesekkan tersebut dengan cara memundurkan sedikit mobil saya ke arah utara. Hasilnya, kedua gesekkan terlepas dan kami pun sama2 bisa berjalan. Mobil Toyota ke arah utara, mobil saya ke arah selatan. Kami pun sempat diam sejenak. Saya melihat ke arah belakang, seperti tidak ada apa2, dan saya pikir memang dia yang salah, memaksakan untuk masuk, saya pun berpikir “yah sudah lah.. gak usah jadi masalah.. saya gak mau minta ganti juga..” saya melanjutkan perjalanan.

Tiba2 dia mengikuti saya, dan saya pun berhenti. Keluarlah 2 pria dan 1 wanita mahasiswa. Mereka berkata, kalau saya kabur, tidak mau mengakui kesalahan saya, dan tidak mau mengganti. Saya mengajak damai saja, tetapi mereka berkata untuk segera ke polisi. Pada saat itu, saya mau mengikuti kemauan mereka untuk ke polisi. Segera saja saya jalankan mobil saya ke kantor polisi lalu lintas di jalan jawa. Perjalanan ke polisi saat itu cukup macet dan hujan, kurang lebih perjalanan sekitar 15 menit.

Sesampainya di polisi, saya menceritakan kejadian tersebut. Tetapi polisi hanya bisa mengatakan “damai saja.. jangan dibesar2kan..” Saya pun meminta damai, tetapi dari pihak sebelah tidak mau damai. Mulai ada beberapa kecurigaan saat saya melihat sekitar, bahwa ada beberapa orang TNI datang. Tidak lama kemudian, seorang ibu datang, ternyata ibu dari wanita yang mengemudikan Toyota tersebut. Ibu tersebut meminta menceritakan kejadian, dan meminta polisi memastikan siapa yang salah. Lagi2 polisi tidak dapat menentukan siapa yang salah. Kemudian si ibu meminta polisi ke TKP dan mengurusi masalah ini sampai selesai. Ibu tersebut kemudian keluar, melihat mobilnya yang rusak.

Kecurigaan pun semakin kuat, karena polisi2 berpangkat pun mulai keluar dari kantor, menemani sang ibu. Saat ibu tersebut melihat mobilnya diluar, saya di dalam kantor polisi. Seorang TNI mulai berbicara ke saya agar segera meminta maaf dan mengganti mobil ibu tersebut. Mengapa jadi saya yang harus meminta maaf dan mengganti? Setelah itu, seorang polisi mengatakan ke saya, kalau keluarga tersebut, adalah keluarga pejabat TNI bintang satu. Kecurigaan pun terjawab!

Dengan berbaik hati, saya pun keluar, ikut melihat mobil. Dengan rendah hati, saya pun meminta maaf, dan meminta berdamai. Biarlah saya yang meminta maaf, walaupun saya tidak merasa salah. Bukankah kita lebih baik memaafkan? Tetapi apa yang dikatakan? Ibu tersebut mengatakan bahwa foot step saya dalam keadaan terbuka menonjol keluar, sehingga menabrak mobilnya. Spontan saja saya berkata “demi Tuhan, saya tidak pernah membuka foot step tersebut”. Dengan angkuh, ibu tersebut terus menuduh saya.

Pada saat tersebut, kondisinya adalah menunggu polisi bersiap ke TKP. Sang ibu tetap mengobrol dengan ajudan TNI-nya dan melihat mobilnya. Sedangkan saya bersandar di tembok, dengan dikelilingi beberapa orang ajudan. Ajudan tersebut berkata ke saya agar segera meminta maaf, segera mengaku salah, segera mengganti mobil tersebut. Saya pun hanya menjawab bahwa saya mengikuti saja apa kemauan sang ibu, dengan segera ke TKP.

Tidak lama kemudian, polisi siap ke TKP, sang ibu memerintahkan ajudannya agar menyelesaikan kejadian ini. Sang ibu pun pergi dengan mobil Toyota Harrier hitamnya meninggalkan kami. Lho? Ibu tersebut yang mau tau kejadian dan minta ke TKP, tetapi kita malah ditinggal dan menyuruh ajudannya. Oke, saya tidak mempermasalahkannya, kami pun berangkat ke TKP, yaitu depan rumah saya sendiri.

Sesampainya di TKP, polisi mulai mengukur-ukur TKP. Wanita pengemudi mobil Toyota pun ditanya2 polisi dengan detail. Wanita tersebut didampingi oleh beberapa ajudannya. Saya hanya ditanya sebagian kecil saja oleh polisi. Selesai polisi menggambar, merekam TKP, kami pun diharuskan ke kantor polisi kembali. Waktu saat itu telah menunjukkan pukul 17.00.

Sesampainya di kantor polisi, saya kembali duduk, meminta untuk damai. Tetapi tetap sang ajudan meminta ganti rugi yang telah saya perbuat atas mobil atasannya. Tiba2 saja saya mendengar kata2 mengganti sejumlah uang beberapa juta, padahal itu hanya permintaan sang ajudan. Saya pun bukan orang yang tidak mengerti mobil, saya juga mempunyai bengkel rekanan, dan saya berpikir tidak mungkin sampai berjuta-juta kalau hanya kecil seperti itu.

Polisi kemudian membuat berita acara untuk diajukan ke pengadilan. Benar saja! Polisi telah salah menggambar TKP saya, sehingga saya telah dirugikan dengan cara saya yang menabrak mobil Toyota tersebut. Saya pun bersikeras untuk segera merubah gambar TKP dan berita acara. Akhirnya, polisi mau mendengarkan saya dan membantu membuat berita acara sesuai kejadian.

Selesai pembuatan berkas2 pengadilan, saya pun kembali mengobrol dengan ajudan, meminta berdamai. Lagi2 kata2 tidak mungkin, keluar dari sang ajudan, dan tetap meminta ganti rugi berjuta2. Akhirnya tanpa jalan keluar, mereka pun meminta untuk melanjutkan perkara kecil ini ke pengadilan. Tidak ada lagi kata2 yang bisa saya ungkapkan, melihat jam sudah pukul 19.30.

Saya pun kembali ke rumah dengan surat pengadilan di tangan. Dengan koneksi yang saya punya, saya pun mencari tau, siapakah orang berbintang tersebut. Saya mempunyai beberapa identitas wanita pengemudi Toyota tersebut, berinisial N, mahasiswi fakultas hukum, Universitas Pajajaran Bandung.

Saat ini saya hanya mengikuti prosedur yang ada. Tidak ada kata2 yang saya bisa keluarkan, selain memohon doa dari Tuhan YME. Yang saya sesalkan adalah, mengapa polisi dan TNI sebagai yang berwenang, melindungi masyarakat, tidak dapat netral diantara kedua belah pihak? Mengapa begitu banyak ajudan yang keluar dari sarangnya, padahal hanya masalah sepele seperti ini? Mengapa saya disuruh oleh ajudan untuk meminta maaf, mengganti sejumlah uang untuk atasannya? Mengapa wanita anak TNI pengemudi Toyota bisa berhubungan langsung dengan ajudan TNI? Mengapa sang ibu seperti memberikan perintah ke ajudan, sehingga ajudan seperti mempunyai kekuasaan atas kejadian ini? apakah pejabat yang mempunyai jalan, mempunyai kekuasaan, mengendalikan semua ini, sehingga kita tidak dapat lagi bergerak di jalur yang biasa kita lewati? Saya tidak mengerti aturan di TNI, tetapi hal2 tersebut banyak memberikan keraguan atas kejadian ini.

Saya hanya ingin meminta maaf apabila ada yang merasa dirugikan, disalahkan atas kejadian ini. Saya mau meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Terakhir, saya mau menghimbau, agar lebih berhati2 dijalan. Semoga hal2 seperti ini tidak terulang pada pengguna jalan yang lain. Terima kasih.

-Ibrahim Lubis-

4 Responses to “Jalan VS Pejabat”

  1. Bruce McIntire Says:

    I must say this is a great article i enjoyed reading it keep the good work :)

  2. asri Says:

    sad to read that
    aparat bukan pejabat aja byk yg sok2an, aplg yg aparat & pejabat…

    ga ngerasa terlindungi ma aparat tuh ;)

  3. Kaum Lemah Says:

    Ikut prihatin Pak.. memang di negara kita ini … siapa kuat di berkuasa.
    gimana akhir dari cerita ini ?

    lagi sebel2nya saya pejabat dan aparat

  4. psm Says:

    Turut bersedih, Pak. Saya juga salah satu orang yang tidak menyukai keberadaan oknum polisi atau tni yg semena2. oknum ini ga lebih dari penjilat atasannya yg juga sama2 penjilat. Mudah2an mereka segera diberi peringatan oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: