Lagi-lagi Boros Energi!

Baca kompas beberapa hari lalu (minggu ke-3 April 2009), ada artikel mengenai pemborosan energi. Lagi-lagi pemborosan energi,  YA! Kenapa??? karena Indonesia memang negara yang sangat boros akan energi. Lihat tulisan saya sebelumnya.

Akhirnya kompas memberikan artikel yang sangat menyentuh kita. Indonesia tidak begitu saja keluar dari krisis energi. Walaupun negara kita sedang bergembira dengan adanya BBM yang murah, tetapi hal ini justru memicu kenaikkan jumlah volume konsumsi BBM. Diperburuk lagi oleh adanya rangkaian pemilu 2009, yang turut menyumbang pemborosan disektor BBM.

Harga BBM subsidi saat ini sudah diatas harga keekonomiannya, hal ini dipicu oleh naiknya harga minyak mentah dunia dan terpuruknya nilai tukar rupiah kita. Hasil surplus BBM beberapa bulan lalu bukan tidak mungkin habis begitu saja oleh pembelian BBM pada saat-saat pemilu sekarang.

Mengutip dari kompas, sekitar 60 persen dari konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dihabiskan untuk aktivitas transportasi yang jelas-jelas tidak efisien, dimana seharusnya kereta api dan kapal laut dimanfaatkan sebagai tulang punggung transportasi yang hemat energi.

Begitu juga dengan listrik, masih juga tergantung oleh BBM. Berikut ini data yang saya dapatkan dari PLN. Dari data tersebut, terlihat bahwa dari tahun ke tahun, uang dihambur-hamburkan untuk membeli BBM. Hal ini dikarenakan PLN bergantung kepada pembangkit listrik yang digerakkan oleh sektor hidrokarbon.

picture1

picture2

Padahal, dari konsumsi BBM sekitar 1,3 juta barrel per hari, Indonesia hanya mampu memproduksi 900.000 barrel per hari. Sisanya Indonesia mengimpor dari berbagai negara. Tahun 1980-an, Indonesia pernah memproduksi 1,6 juta barrel per hari dengan konsumsi 600.000 barrel per hari. Sehingga kita bisa menjadi negara pengekspor migas. Akhirnya kini Indonesia telah memutuskan keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Masyarakat di Indonesia termasuk yang terboros dalam hal pemanfaatan BBM. Perbandingan elastisitasnya 1,84. Jauh lebih boros dari Jepang dan Amerika Serikat, bahkan dibandingkan negara tetangga ASEAN. Malaysia 1,69, Thailand 1,16, Jepang hanya 0,10. Untuk meningkatkan per 1 USD GDP (produk domestik bruto), masyarakat kita butuh 1,84 kali lipat energi BBM. Memang ini tidak lepas dari negara kita yang negara berkembang, tetapi apakah haru sejauh itu borosnya???

Kalau segini borosnya ditambah lagi tidak ada enegi alternatif, maka bukan tidak mungkin bila energi kita akan habis dalam waktu dekat. Berikut ini saya tampilkan rasio cadangan dan produksi dari beberapa energi yang ada.

picture5

Murahnya energi BBM ini membuat orang-orang terlena akan nikmatnya energi fosil. Energi alternatif tidak berkembang karena tidak dapat bersaing dengan BBM bersubsidi tersebut. Bagaimana kalau diubah, energi alternatif yang di subsidi, sedangkan BBM tetap pada harga keekonomiannya. Kemudian pemerintah memberikan berbagai keringanan pada barang-barang yang menggunakan energi alternetif tersebut. Sebut saja kendaraan hybrid yang diberikan harga dan pajak lebih murah.

Langkah lain adalah menggunakan pembangkit listrik bertenaga alternatif (renewable energy). Hal ini lebih masuk akal dan mudah karena pembangkit listrik dapat bekerja pada energi fosil dan non-fosil dimana sektor transportasi lebih bergantung kepada minyak. Untuk sektor transportasi bisa diakali dengan pembebanan pada biofuel, standarisasi gas buang, dan pajak yang lebih tinggi.

Mari sama-sama berhemat dan mengembangkan energi alternatif…

4 Responses to “Lagi-lagi Boros Energi!”

  1. risna widyaningrum Says:

    Waduh…saya jadi miris euy membaca artikel kamu im, ternyata kita boros (energi) banget ya? mungkin nasib anak cucu kita kelak hanya tahu kalau “Indonesia pernah menjadi penghasil minyak bumi”, bahkan perusahaan-perusahaan minyak di Indonesia “kemungkinan” hanya akan menjadi monumen bersejarah yang tinggal kenangan untuk diceritakan ke anak cucu. Tapi saya sanksi, apakah masyarakat kita bisa memahami kalau kita sedang mengalami “krisis energi?”, apakah mereka juga mau menyadari bahwa “kita (boros) energi?” sementara mereka berfikir kalau pertanyaan itu hanyalah pertanyaan retoris (hiks…hiks…)
    Sepertinya renewable energy juga tidak begitu berpengaruh untuk diterapkan pada masyarakat kita, karena masyarakat kita terlalu “bandel n kolot” untuk diberi penjelasan. Pemerintah dan instansi terkait harus bisa memberikan contoh tentang pemakaian renewable energy

  2. risna widyaningrum Says:

    Sehingga hal ini bukan merupakan suatu wacana belaka. Perlu diketahui bahwa sebagian besar masyarakat yang “boros energi” itu biasanya dilakukan oleh masyarakat yang kondisi ekonominya menengah keatas, bukan masyarakat yang kondisi ekonominya menengah kebawah. Sebagai contoh : orang yang kaya, biasanya tidak cukup punya mobil 1 dirumahnya, mereka berfikir mobil adalah “kebutuhan pokok” untuk menunjang kegiatannya sehari-hari, padahal dengan semakin banyaknya mobil yang mereka miliki maka akan semakin banyak pula kebutuhan bensin yang diperlukan untuk mobil-mobilnya itu. Tanpa mereka sadari jumlah mobil yang semakin meningkat seiring majunya perkembangan jaman (konon sih katanya begitu) hanya membuat kemacetan dijalan, belum lagi kemacetan itu membuat polusi udara dan bahkan pulusi suara: “bukanlah hasil produksi kita sendiri”…hiks…hiks…
    Kita memang kaya akan minyak bumi (yachh..walaupun sekarang makin sedikit produksinya) tapi kita belum bisa mengolahnya secara baik, buktinya kita cuman bisa jual minyak mentah dan beli yang sudah matang. Itu kan sama halnya dengan kita menjual beras, lalu membeli nasi. Karena kita tidak tahu gimana masaknya….Oh My God miris sekali yaaaaaaa…
    So, permasalahan ini sebenarnya tanggung jawab siapa? Hmmmm…kita semua sudah tahu jawabannya bukan, ini adalah tanggung jawab kita bersama, karena “tanpa kita sadari” mungkin kita juga ikut andil dalam proses “pemborosan energi”
    Mudah-mudahan ini menjadi renungan kita bersama, agar kita menjadi orang yang arif dan bijaksana…

  3. ibrahimlubis Says:

    terima kasih risna atas commentnya.

    bener, mari kita mulai dari diri sendiri. sedikit demi sedikit, lama2 jadi bukit. hehehe…

  4. dian hakim Says:

    Im, buat kebijakan energi alternatif kah,, semisal insentif bagi mereka yg bereksplorasi di panasbumi,, kita kan masih kalah jauh ama filiphina dalam hal pemakaian atau pemanfaatn geothermal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: